Rahasia Hati

element rahasia hati

Listen, download from here

Monday, July 9, 2018

HILANG

DIAN, hari ini ujian skripsi. Bangun pagi-pagi. Semangat. Yakin dengan semua persiapan. Tiba dikampus 45 menit sebelum pintu ruang ujian dibuka. Menunggu di aula depan gedung Departemen Akuntansi. Masih sempat SMS sana, SMS sini. Bilang hari ini ia mau sidang skripsi. Please, kasih doa-doa biar lancar. Setengah jam berlalu. Sayang, sepuluh SMS terkirim, tak satu pun yang di-reply. Mungkin teman-temannya sedang sibuk. Mungkin masih di jalan. Mungkin HP mereka tertinggal. Mungkin entahlah. Dian membesarkan hati.
Dosen penguji mulai berdatangan. Dian semakin ketar-ketir. Eh, masak iya nggak ada teman-temannya yang me-reply SMS? Doni memencet-mencet nomor. Mencoba menghubungi teman-temannya. Apes! Nada sibuk. Kalaupun ada nada tunggu, ya nggak diangkat-angkat. Pada ke mana mereka hari ini?
Duh, ke mana pula Elsa, pacarnya. Masak di hari sepenting ini, pacarnya nggak kasih doa selamat berjuang, atau apa kek. Dian mengusap dahinya yang berkeringat. Elsa mungkin masih bete. Mereka memang habis bertengkar dua hari lalu. Elsa malah mengancam mau putus segala.
Teng! Waktunya masuk ruang sidang. Doni mengusir hal-hal negatif di kepalanya. Berusaha merapikan dasi dan kemeja lengan panjangnya. Berdoa sebentar, semoga semuanya lancar.

* * *

Rian, hari ini ujian skripsi. Bangun pagi-pagi. Semangat. Yakin dengan semua persiapan. Tiba di kampus 45 menit sebelum pintu ruang ujian dibuka. Menunggu di aula depan gedung Departemen Akuntansi. Masih sempat SMS sana, SMS sini. Bilang hari ini ia mau sidang skripsi. Please, kasih doa-doa biar lancar. Setengah jam berlalu. Sayang, sepuluh SMS terkirim, tak satu pun yang di-reply. Mungkin teman-temannya sedang sibuk. Mungkin masih di jalan. Mungkin HP mereka tertinggal. Mungkin entahlah. Rian membesarkan hati.
Dosen penguji mulai berdatangan. Rian semakin ketar-ketir. Eh, masak iya nggak ada teman-temannya yang me-reply SMS? Doni memencet-mencet nomor. Mencoba menghubungi teman-temannya. Apes! Nada sibuk. Kalaupun ada nada tunggu, ya nggak diangkat-angkat. Pada ke mana mereka hari ini?
Celingukan ke sana-kemari. Ngelihat Dian yang berdiri di aula Gedung Akuntansi. Sial, tuh anak hari ini ujian skripsi juga. Rian benci banget dengan Dian. Apalagi kalau bukan gara-gara Elsa. Dari dulu Rian naksir berat sama Elsa. Sayang Elsa malah jadian sama Dian. Semoga Dian nggak lulus, Rian berseru sirik dalam hati.
Teng! Waktunya masuk ruang sidang. Rian mengusir hal-hal negatif di kepalanya. Berusaha merapikan dasi dan kemeja lengan panjangnya. Berdoa sebentar, semoga semuanya lancar.

* * *

Dua jam berlalu, Dian keluar dengan muka merah. Benar-benar menyakitkan. Skripsinya dibilang sampah. Dan benar-benar dibuang ke kotak sampah oleh salah seorang dosen penguji yang punya reputasi super-killer. Hiks! TIDAK LULUS! Dian tertunduk, melangkah patah-patah keluar gedung Departemen Akuntansi. Baru tiba di pintu aula depan, HP nya berdering. Elsa yang menelpon.
"Mulai hari ini kita putus!" Elsa tanpa bilang salam, tanpa say sayang, langsung to the point.
"Sa, dengerin aku....." Tut...Tut...Tut.
Dian panik. Berusaha telepon balik Elsa. Apes! Tidak aktif. Ya Tuhan! Dian mengeluh dalam. Lihatlah, hari ini ia nggak lulus ujian skripsi dan Elsa bilang putus. Dian melangkah tertatih ke air mancur kampus. Duduk nelangsa di kursi taman. Ketemu Rian di sana.

* * *

Dua jam berlalu, Rian keluar dengan muka merah. Benar-benar sempurnya. Skripsinya dibilang luar-biasa! Dikasih nilai A+ oleh salah seorang dosen penguji yang punya reputasi super-killer. Dahsyat, Man! LULUS! Rian melangkah keluar dengan riang gagah keluar gedung Departemen Manajemen. Menuju air mancur kampus. Duduk dengan bangganya di kursi taman. Ketemu Dian di sana. Ngelihat tampang Dian yang nelangsa. Yes!! Kalau lihat mukanya, dia nggak lulus. Rian bersorak riang dalam hati. Benar-benar hari yang sempurna.
"Lu lulus, Yan?" Basa-basi.
Dian menggeleng lemah.
"Nggak. Sial banget gue. Lu lulus?"
Rian mengangkat bahu, sok banget.
"Gue benar-benar apes Ri." Dian tertunduk pelan.
"Kenapa?"
"Hari ini Elsa juga mutusin gue!"
Rian bahkan hampir tak kuasa menahan diri untuk tidak melompat riang jingkrak-jingkrak.
"Gue ke kantin dulu, Yan." Rian beranjak pergi. Hari yang menyenangkan. Teman-teman se-gengnya pasti lagi ngumpul di kantin. Bakal seru banget ngomongin kabar hari ini.
Dian duduk bengong di depan air mancur. Sedih banget. Sesak. Ia benar-benar apes hari ini. Nggak lulus. Diputusin pacar. Terus lihat Rian yang bahagia banget.
Dian ngambil HP nya dari kantong celana. Lihatlah, tetap nggak satu pun teman-temannya yang me-reply SMS. Sekali lagi mencoba send SMS, bilang ia nggak lulus, bilang Elsa mutusin. "Hari ini gue sedih banget, Friends!" Satu jam berlalu. Tetap nggak satu pun dari (sekarang) dua puluh SMS yang dikirim berbalas. Mungkin mereka nggak tahu kalau ada SMS darinya. Dian mencet-mencet nomor. Coba menelepon. Nada sibuk. Nggak diangkat. Tidak aktif. Voice box. Pada ke mana?
Dian duduk semakin nelangsa. Lihatlah, hari ini pas ia lagi sedih banget, justru nggak ada satu pun teman yang bisa jadi tempat curhat. Sendiri. Dian mengusap wajahnya.

* * *

Rian pergi ke kantin. Semangat. Mereka harus tahu kabar baik hari ini. Rian tersenyum lebar. Tuing! Ternyata nggak ada satu pun teman se-gengnya ada di kantin. Malah kantin terlihat sepi. Kok? Rian mengambil HP di saku celananya.
Pada ke mana, sih? Masak SMS nya tadi pagi belum di-reply juga? Rian send dua puluh SMS lagi. "Gila, Friends, gue lulus. Terus lu tau, nggak, Elsa putus sama Dian! Haha! Gue bahagia banget hari ini." Rian duduk di kursi kantin.
Satu jam berlalu. Ampun, belum ada satu pun juga yang me-reply SMS! Mungkin mereka nggak  tahu kalau ada SMS darinya. Rian memencet-mencet nomor. Coba menelepon. Nada sibuk. Nggak diangkat. Tidak aktif. Voice box. Pada ke mana?
Rian menatap kosong langit-langit kantin yang sepi. Bagaimana mungkin? Hari ini dia lagi happy banget, tapi justru nggak ada satu pun teman yang bisa jadi tempat untuk cerita kebahagiaannya. Sendiri. Rian mengusap wajahnya.

* * *

Percayalah, hal yang paling menyakitkan di dunia bukan saat kita lagi sedih banget tapi nggak ada satu pun teman untuk berbagi. Hal yang paling menyakitkan adalah saat kita lagi happy banget tapi justru nggak ada satu pun teman untuk membagi kebahagiaan tersebut.
Tapi ada yang lebih celaka lagi, yaitu ketika kita justru senang banget pas lihat teman susah, dan sebaliknya terasa susah banget di hati pas lihat teman lagi senang. Hiks!

* * *

Tuesday, July 3, 2018

Kutukan Kecantikan

Aku menuangkan dua sachet sekaligus gula rendah kalori ke dalam gelas plastik medium size di hadapanku. Lantas mengaduknya perlahan-lahan hingga sempurna bercampur dengan aroma teh yang menyengat. Arloji di tangan menunjukkan pukul tujuh seperempat. Memang masih terlalu pagi untuk ukuran kelaziman, duduk sarapan di salah satu kedai fast food yang banyak berjejer di antara toko-toko souvenir di pelataran ruang tunggu ini.
Musim penghujan membuat suasana hati terasa dingin dan lengang. Tapi sepagi dan sedingin ini, aktivitas bandara telah terlihat begitu sibuk mencengangkan. Tak pernah terbayangkan kapasitas dua puluh juta penumpang per tahun itu harus segera ditambah karena semakin merakyatnya angkutan udara. Pesawat dari Kuala Lumpur yang membawa Dimas, sahabat dekatku, baru akan tiba tepat satu jam lagi. Waktu yang sangat lama untuk menunggu--- lagi--- lagi menurut ukuran kebiasaanku. Tapi tak mengapa, sebenarnya aku memang membutuhkan suasana ini sebelum bertemu dengannya. Ada banyak hal yang bisa diingat dengan nyaman selama satu jam ini. Barusan, dengan hanya melihat kembali fotonya yang tertawa lebar sambil memeluk istrinya yang menggendong bayi mereka, sepuluh menit menunggu pramusaji mengantarkan teh dan sepiring donat berlalu seperti angin lembut menyenangkan. Bagus mengirimkan foto itu sebagai attachment email terakhirya minggu lalu. Dan aku segera mencetaknya di atas kertas terbaik dengan setting kualitas super printer foto tercanggih milikku.
Ia bercerita soal kedatangannya ke kota kami, salah satu kota terindah di dunia. Istrinya, Anna yang seratus persen asli Malaysia, sebenarnya memang sudah lama mendesak untuk berkunjung. "Ia bilang ingin sungkeman dengan mertuanya, tapi aku tahu ia sebenarnya ingin sekalian plesir," tergelak Dimas menceritakannya dalam email tiga bulan lalu. Dan sekarang, kebetulan dalam suasana tahun baru, mereka bisa mengambil cuti akhir tahun yang cukup panjang. Apalagi Egi bayi mereka, sudah berumur setahun lebih. Sudah tidak terlalu merepotkan lagi untuk diajak terbang berjam-jam melintasi benua.
Aku pertama kali mengenal Dimas sebenarnya dalam situasi yang tidak menyenangkan, sepuluh tahun silam. Saat itu kami sama-sama sedang teraniaya di "ruang dosa" ospek kampus baruku. Dalam suasana seperti itu orang-orang senasib seperti kami dengan segera bisa menjadi sahabat baik. Meskipun berbeda fakultas dengan jarak gedung kelas berjauhan, bisa dibilang hampir setiap hari kami bertemu, karena ternyata aku dan Dimas tinggal di rumah pondokan yang sama. Hingga lulus dan kemudian bekerja, kami memutuskan untuk tetap "menetap" di tempat tersebut.
Tak pelak lagi, setiap malam adalah malam-malam percakapan, perdebatan, hingga curhat dan saling olok-mengolok. Awalnya topik pembicaraan kami hanya berkisar soal kesibukan kuliah, aktivitas kampus, hobi masing-masing, atau permasalahan ringan lainnya.
Semakin ke sini, filosofi kehidupan, perjalanan percintaan, cita-cita hidup, dan topik yang lebih berat serta beragam lainnya mulai bermunculan.
Dimas adalah teman terbaik dalam berdiskusi. Ia adalah pendengar yang baik, walaupun bisa dibilang selama ini akulah yang banyak mengambil inisiatif obrolan atau menceritakan masalah. Ia sangat terlatih untuk mencari solusi dalam segala persoalan, kecuali satu, soal wanita.

* * *

Aku ingat sekali, malam itu pukul sembilan kurang seperepat. Dimas menyerbu masuk ke dalam kamarku. "Cantik, cantik banget, Rik!" Ia bahkan belum sempat melepas kaos kaki dan pakaian necis kerjanya hari itu. Aku yang sudah sepuluh menit terpekur di hadapan laptopku, buntu mencari ide tulisan, menoleh dan menanggapi dengan ekspresi seadanya.
"Siapa?"
"Lu gak bakalan percaya. Lu tahu, kan, hari ini gue dipindah ke cabang Sudirman, jadi tadi pagi gue naik bus 102. Lu tau apa yang gue temukan? Cewek, Man, Gile! Sebelas dari nol sampai sepuluh." Dengan sigap ia menjulurkan sepuluh jarinya---tentu saja bukan sebelas.
Aku merasa saat itu antusias Dimas membuat air mukanya terlihat bercahaya. Aku tersenyum, menutup laptop. Saatnya sekarang untuk membalas kebaikan yang selama ini sering ia lakukan untukku. Menjadi pendengar yang baik.
Miss X, begitulah nama gadis itu. Ini kata Dimas di hari kesepuluh semenjak malam ia menceritakannya untuk pertama kalinya. Tentu, aku yakin nama aslinya tak sependek itu. Tapi karena hingga hari itu, ia belum berani juga menegurnya, apalagi bertanya soal namanya, maka untuk mempermudah nama itu di percakapan rutin malam.
Berambut sebahu, lurus bagai di rebonding, hitam legam bercahaya. Matanya tajam dan indah dengan alis yang sempurna. Hidungnya elok dan proposional. Bibirnya mungil merekah bagai buah merah delima. Kulitnya putih mulus berseri dan ia memiliki tahi lalat kecil di dagunya yang belah, membuatnya berpadu semakin aduhai dengan lesung pipitnya. Gadis ini selalu mengenakan blouse warna gelap dengan rok sewarna dibawah lutut. Dan selalu pula duduk di kursi dekat jendela kiri baris dua bus patas AC tersebut.
Deskripsi yang sangat baik untuk ukuran seseorang yang hanya sempat melirik selintas ketika melewatinya menuju kursi bagian belakang bus yang masih kosong. Akan tetapi, jangan tanya soal tinggi tubuh dan parfum yang dipakainya. Dimas belum pernah melihatnya berdiri karena ia turun lebih dulu dibandingkan gadis itu. Ia juga belum pernah berkesempatan duduk di dekatnya karena tempat duduk bagian depan biasanya sudah terisi penuh setiba di halte kampus.
Meski aku tidak terlalu percaya dengan deskripsinya, masak iya ada cewek secantik itu, aku membesarkan hatinya dengan cerita-cerita percintaanku selama ini yang mengharu-haru. Tentang perasaanku ketika aku jatuh cinta pada pandangan pertama. Walaupun di sana-sini lebih banyak olok-olok yang kulemparkan padanya karena sebenarnya aku selalu jatuh cinta pada pandangan pertama dengan gadis-gadis cantik yang kukenal.
Dan Dimas menerimanya seperti anak kecil yang begitu senang didongengkan tentang sebuah epik. Nampaknya prospek topik pembicaraan malam kami satu bulan ke depan tidak akan bergeser dari isu Miss X ini. Dan sialnya, menilik keberanian Dimas selama ini, serta dari cerita-ceritanya, aku pesimis dengan sebuah kemajuan yang berarti dalam waktu dekat.
Tanpa disangka, di akhir bulan, ternyata Dimas menceritakan sebuah perkembangan baru.
"Lu tau gak Rik, tadi pagi gue berangkat jam enam pagi?"
"Tahu, kamar lu udah sepi pas gue berangkat. Memangnya lu dipindah ke cabang yang lebih jauh?"
"Nggak, Friend! Gue tadi pagi nggak nyetop bus di halte kampus. Gue ke terminal dulu"
"Loh bukannya nggak praktis seperti yang lu sering ceramah-in ke gue?" Aku malas sebenarnya  mengajukan pertanyaan ini karena sebenarnya aku tahu persis alasannya kenapa ia tiba-tiba memilih untuk berangkat lebih pagi, dan "membakar" setengah jam waktu paginya yang berharga. Sesuatu yang amat dibencinya selama ini.
Apalagi kalau bukan soal Miss X. Menunggu di terminal dan mencari kesempatan untuk duduk di sampingnya saat ia naik bus adalah strategi lumrah yang biasa aku lakukan selama ini untuk mencari cara berkenalan dengan wanita-wanita komputer---ini istilahku untuk wanita teman satu busku. Sayangnya ketika aku bertanya, apakah ia akhirnya berhasil duduk di sebelah Miss X, jawabannya mengenaskan.
"Gue nggak berani, Rik."
Bah!

* * *

Aku salah besar.
Topik pembicaraan ini ternyata menguasai dengan sempurna malam-malam diskusi kami di kos-kosan selama enam bulan berikutnya. Tiga bulan pertama sebenarnya masih mengasyikan mendengar kepolosan Dimas menceritakan perasaannya yang galau, lantas aku memperolok-oloknya. Akan tetapi, lama-kelamaan, aku kehilangan kesabaran dan selera bermain-main lagi.
Untuk ukuran kelazimanku, tingkah lau Dimas soal yang satu ini sangat memalukan. Aku bisa menerima alasan bahwa memang tidak mudah untuk menjalin hubungan dengan seorang gadis yang cantik, apalagi itu cinta pertama. Akan tetapi fakta bahwa ia menyadari sangat menyukai Miss X dan berkali-kali berkata, membuatnya untuk kemajuan yang berarti, selain menceritakan hal yang itu-itu saja. Sekali pernah Dimas menceritakan perkembangan tentang tinggi Miss X yang 165cm. Untuk tahu informasi itu Dimas memutuskan untuk mengikutinya hingga ia turun di salah satu halte jalan Thamrin. Itu saja. Semua itu membuatku jengkel setengah mati.
Aku kehilangan kesabaran atas kepengecutannya. Dan lebih gemas lagi ketika ia mencoba mencari-cari alasan untuk menjelaskannya. Lelah sudah aku menceramahinya soal Tania, macan kampus yang aku takhlukkan dengan nekad berdiri di depan rumahnya berhari-hari. Atau tentang Devi, anak kos-kosan seberang rumah yang kupikat dengan pura-pura menyukai serial televisi Friends sebagai alasan untuk meminjam koleksi DVD original miliknya.
Bulan depan, genap setahun malamku dihabiskan untuk membahas Miss X. Dan ketika aku dicemaskan kemungkinan setahun penuh ia malam-malamku mubazir dihabiskan hanya menjadi pendengar yang baik, malam itu Dimas datang ke kamarku, membahas soal lain. Minggu depan ia akan tugas belajar ke Malaysia. Aku tercengang, bukan karena surprise terbebaskan dari topik yang selama ini menjengkelkan, tapi lebih karena teramat mendadak.
"Nggak juga, sih, Rik. Sebenarnya sudah hampir enam bulan ini gue merencanakannya. Tapi, selama ini gue emang nggak sempat cerita ke lu."
Bah! Tentu saja tidak akan pernah sempat.

* * *

Semenjak itu, pembicaraan kami soal Miss X tutup buku. Benar-benar tutup buku. Dimas bahkan tak pernah membahasnya dalam email-email yang dikirimkannya setelah ia benar-benar berangkat ke Malaysia. Hanya ada satu email yang sempat menyinggung soal Miss X. Dan itu dikirimkannya ketika ia mulai mengenal Anna sebagai partner risetnya di universitas Malaysia enam bulan setelah ia berada di sana.
"Rik, setelah gue pikir-pikir, gue rasa gue bukanlah cowok pengecut seperti yang selama ini lu olok-olokkan. Buktinya sekarang gue dengan mudah bisa mengenal dan dekat dengan Anna. Semuanya berjalan begitu lancar. Gue sendiri nggak pernah merasa perlu menggunakan tips-tips dari lu."
"Tapi kenapa waktu itu sangat sulit, ya?? Gue juga nggak tahu persis kenapa. Mungkin gue pikir dialah yang menjadi masalahnya. Sosoknya terlalu kuat, friend. Terlalu memesona. Membuat gue begitu terdeterminasi. Rik, gue berani bertaruh, semua pria yang pernah mengenalnya dan memiliki perasaan suka dengannya juga mengalami kejadian seperti gue. Mungkin dia adalah kutukan yang sempurna atas sebuah kecantikan."
Aku tersenyum sambil nyengir hambar sekaligus getir.

* * *

Sekarang pukul delapan lewat dua puluh menit. Isi cangkir tehku yang kedua juga sudah habis. Pesawat yang membawa sahabatku baikku sepuluh menit lalu sudah mendarat. Dan sekarang pasti Dimas sedang menggandeng istrinya sambil menggendong kereta bayinya menyelusuri lorong-lorong bandara. Aku berdiri beranjak meninggalkan kedai fast food. Kuletakkan selembar uang dua puluh ribuan sebagai tip di atas meja. Hari ini aku sedang ingin berbagi kebaikan.
Apa yang pertama kali akan kulakukan ? Tersenyum lepas menyapa dan memeluknya ? Sekadar bersalaman menanyakan kabar ? Atau mengungkapkan segala kejadian yang ia tidak ketahui setelah ia pergi ke Malaysia ? Tiba-tiba aku berdiri dengan sebuah perasaan yang tak kukenali lagi di depan pintu keluar penumpang itu.
Ah, seandainya Dimas tahu, hari ini tepat dua tahun lamanya aku juga tersiksa. Seandainya ia tahu apa yang telah terjadi sehari setelah aku mengantar kepergiannya di bandara waktu itu.
Aku begitu terpukul melihat air mukanya yang sangat kecewa saat itu. Satu-satunya penyebab kekecewaan itu apalagi kalau bukan persoalan Miss X. Kesedihan itu semakin dalam karena Dimas tidak pernah lagi berkata-kata soal ini selama satu minggu sebelum keberangkatannya. Benarlah kata orang, terkadang sembilu lebih tajam tanpa dihujamkan. Karena itulah aku tiba-tiba menjadi begitu benci, begitu dendam pada gadis itu. Aku memutuskan untuk menemuinya di atas bus patas AC 102 pagi hari kemudian. Harus ada "perhitungan" berarti dengannya.
Tetapi ternyata kamu benar Mas, gadis itu adalah sebuah kutukan. Hingga hari ini, genap sudah dua tahun aku selalu "terpaksa" naik bus itu, padahal kamu tahu persis kantor redaksi majalahku bagaikan langit dan bumi dengan arah bus itu. Ada obsesi yang selalu memaksaku untuk melirik kursi dekat jendela sebelah kiri baris kedua dari depan itu. Ada berjuta kebahagiaan aneh-mengendalikan yang datang meski sebatas hanya memandang sekilas wajahnya yang begitu indah-. Ah, ada sebuah ekstase di sana.
Dan ternyata aku tak mampu melakukannya lebih dari itu. Hinggi hari ini. Meski hanya sekadar untuk berkata, "Hi, saya Erik. Boleh kenalan?"

* * *

HILANG

DIAN, hari ini ujian skripsi. Bangun pagi-pagi. Semangat. Yakin dengan semua persiapan. Tiba dikampus 45 menit sebelum pintu ruang ujian dib...