Rahasia Hati

element rahasia hati

Listen, download from here

Monday, July 9, 2018

HILANG

DIAN, hari ini ujian skripsi. Bangun pagi-pagi. Semangat. Yakin dengan semua persiapan. Tiba dikampus 45 menit sebelum pintu ruang ujian dibuka. Menunggu di aula depan gedung Departemen Akuntansi. Masih sempat SMS sana, SMS sini. Bilang hari ini ia mau sidang skripsi. Please, kasih doa-doa biar lancar. Setengah jam berlalu. Sayang, sepuluh SMS terkirim, tak satu pun yang di-reply. Mungkin teman-temannya sedang sibuk. Mungkin masih di jalan. Mungkin HP mereka tertinggal. Mungkin entahlah. Dian membesarkan hati.
Dosen penguji mulai berdatangan. Dian semakin ketar-ketir. Eh, masak iya nggak ada teman-temannya yang me-reply SMS? Doni memencet-mencet nomor. Mencoba menghubungi teman-temannya. Apes! Nada sibuk. Kalaupun ada nada tunggu, ya nggak diangkat-angkat. Pada ke mana mereka hari ini?
Duh, ke mana pula Elsa, pacarnya. Masak di hari sepenting ini, pacarnya nggak kasih doa selamat berjuang, atau apa kek. Dian mengusap dahinya yang berkeringat. Elsa mungkin masih bete. Mereka memang habis bertengkar dua hari lalu. Elsa malah mengancam mau putus segala.
Teng! Waktunya masuk ruang sidang. Doni mengusir hal-hal negatif di kepalanya. Berusaha merapikan dasi dan kemeja lengan panjangnya. Berdoa sebentar, semoga semuanya lancar.

* * *

Rian, hari ini ujian skripsi. Bangun pagi-pagi. Semangat. Yakin dengan semua persiapan. Tiba di kampus 45 menit sebelum pintu ruang ujian dibuka. Menunggu di aula depan gedung Departemen Akuntansi. Masih sempat SMS sana, SMS sini. Bilang hari ini ia mau sidang skripsi. Please, kasih doa-doa biar lancar. Setengah jam berlalu. Sayang, sepuluh SMS terkirim, tak satu pun yang di-reply. Mungkin teman-temannya sedang sibuk. Mungkin masih di jalan. Mungkin HP mereka tertinggal. Mungkin entahlah. Rian membesarkan hati.
Dosen penguji mulai berdatangan. Rian semakin ketar-ketir. Eh, masak iya nggak ada teman-temannya yang me-reply SMS? Doni memencet-mencet nomor. Mencoba menghubungi teman-temannya. Apes! Nada sibuk. Kalaupun ada nada tunggu, ya nggak diangkat-angkat. Pada ke mana mereka hari ini?
Celingukan ke sana-kemari. Ngelihat Dian yang berdiri di aula Gedung Akuntansi. Sial, tuh anak hari ini ujian skripsi juga. Rian benci banget dengan Dian. Apalagi kalau bukan gara-gara Elsa. Dari dulu Rian naksir berat sama Elsa. Sayang Elsa malah jadian sama Dian. Semoga Dian nggak lulus, Rian berseru sirik dalam hati.
Teng! Waktunya masuk ruang sidang. Rian mengusir hal-hal negatif di kepalanya. Berusaha merapikan dasi dan kemeja lengan panjangnya. Berdoa sebentar, semoga semuanya lancar.

* * *

Dua jam berlalu, Dian keluar dengan muka merah. Benar-benar menyakitkan. Skripsinya dibilang sampah. Dan benar-benar dibuang ke kotak sampah oleh salah seorang dosen penguji yang punya reputasi super-killer. Hiks! TIDAK LULUS! Dian tertunduk, melangkah patah-patah keluar gedung Departemen Akuntansi. Baru tiba di pintu aula depan, HP nya berdering. Elsa yang menelpon.
"Mulai hari ini kita putus!" Elsa tanpa bilang salam, tanpa say sayang, langsung to the point.
"Sa, dengerin aku....." Tut...Tut...Tut.
Dian panik. Berusaha telepon balik Elsa. Apes! Tidak aktif. Ya Tuhan! Dian mengeluh dalam. Lihatlah, hari ini ia nggak lulus ujian skripsi dan Elsa bilang putus. Dian melangkah tertatih ke air mancur kampus. Duduk nelangsa di kursi taman. Ketemu Rian di sana.

* * *

Dua jam berlalu, Rian keluar dengan muka merah. Benar-benar sempurnya. Skripsinya dibilang luar-biasa! Dikasih nilai A+ oleh salah seorang dosen penguji yang punya reputasi super-killer. Dahsyat, Man! LULUS! Rian melangkah keluar dengan riang gagah keluar gedung Departemen Manajemen. Menuju air mancur kampus. Duduk dengan bangganya di kursi taman. Ketemu Dian di sana. Ngelihat tampang Dian yang nelangsa. Yes!! Kalau lihat mukanya, dia nggak lulus. Rian bersorak riang dalam hati. Benar-benar hari yang sempurna.
"Lu lulus, Yan?" Basa-basi.
Dian menggeleng lemah.
"Nggak. Sial banget gue. Lu lulus?"
Rian mengangkat bahu, sok banget.
"Gue benar-benar apes Ri." Dian tertunduk pelan.
"Kenapa?"
"Hari ini Elsa juga mutusin gue!"
Rian bahkan hampir tak kuasa menahan diri untuk tidak melompat riang jingkrak-jingkrak.
"Gue ke kantin dulu, Yan." Rian beranjak pergi. Hari yang menyenangkan. Teman-teman se-gengnya pasti lagi ngumpul di kantin. Bakal seru banget ngomongin kabar hari ini.
Dian duduk bengong di depan air mancur. Sedih banget. Sesak. Ia benar-benar apes hari ini. Nggak lulus. Diputusin pacar. Terus lihat Rian yang bahagia banget.
Dian ngambil HP nya dari kantong celana. Lihatlah, tetap nggak satu pun teman-temannya yang me-reply SMS. Sekali lagi mencoba send SMS, bilang ia nggak lulus, bilang Elsa mutusin. "Hari ini gue sedih banget, Friends!" Satu jam berlalu. Tetap nggak satu pun dari (sekarang) dua puluh SMS yang dikirim berbalas. Mungkin mereka nggak tahu kalau ada SMS darinya. Dian mencet-mencet nomor. Coba menelepon. Nada sibuk. Nggak diangkat. Tidak aktif. Voice box. Pada ke mana?
Dian duduk semakin nelangsa. Lihatlah, hari ini pas ia lagi sedih banget, justru nggak ada satu pun teman yang bisa jadi tempat curhat. Sendiri. Dian mengusap wajahnya.

* * *

Rian pergi ke kantin. Semangat. Mereka harus tahu kabar baik hari ini. Rian tersenyum lebar. Tuing! Ternyata nggak ada satu pun teman se-gengnya ada di kantin. Malah kantin terlihat sepi. Kok? Rian mengambil HP di saku celananya.
Pada ke mana, sih? Masak SMS nya tadi pagi belum di-reply juga? Rian send dua puluh SMS lagi. "Gila, Friends, gue lulus. Terus lu tau, nggak, Elsa putus sama Dian! Haha! Gue bahagia banget hari ini." Rian duduk di kursi kantin.
Satu jam berlalu. Ampun, belum ada satu pun juga yang me-reply SMS! Mungkin mereka nggak  tahu kalau ada SMS darinya. Rian memencet-mencet nomor. Coba menelepon. Nada sibuk. Nggak diangkat. Tidak aktif. Voice box. Pada ke mana?
Rian menatap kosong langit-langit kantin yang sepi. Bagaimana mungkin? Hari ini dia lagi happy banget, tapi justru nggak ada satu pun teman yang bisa jadi tempat untuk cerita kebahagiaannya. Sendiri. Rian mengusap wajahnya.

* * *

Percayalah, hal yang paling menyakitkan di dunia bukan saat kita lagi sedih banget tapi nggak ada satu pun teman untuk berbagi. Hal yang paling menyakitkan adalah saat kita lagi happy banget tapi justru nggak ada satu pun teman untuk membagi kebahagiaan tersebut.
Tapi ada yang lebih celaka lagi, yaitu ketika kita justru senang banget pas lihat teman susah, dan sebaliknya terasa susah banget di hati pas lihat teman lagi senang. Hiks!

* * *

Tuesday, July 3, 2018

Kutukan Kecantikan

Aku menuangkan dua sachet sekaligus gula rendah kalori ke dalam gelas plastik medium size di hadapanku. Lantas mengaduknya perlahan-lahan hingga sempurna bercampur dengan aroma teh yang menyengat. Arloji di tangan menunjukkan pukul tujuh seperempat. Memang masih terlalu pagi untuk ukuran kelaziman, duduk sarapan di salah satu kedai fast food yang banyak berjejer di antara toko-toko souvenir di pelataran ruang tunggu ini.
Musim penghujan membuat suasana hati terasa dingin dan lengang. Tapi sepagi dan sedingin ini, aktivitas bandara telah terlihat begitu sibuk mencengangkan. Tak pernah terbayangkan kapasitas dua puluh juta penumpang per tahun itu harus segera ditambah karena semakin merakyatnya angkutan udara. Pesawat dari Kuala Lumpur yang membawa Dimas, sahabat dekatku, baru akan tiba tepat satu jam lagi. Waktu yang sangat lama untuk menunggu--- lagi--- lagi menurut ukuran kebiasaanku. Tapi tak mengapa, sebenarnya aku memang membutuhkan suasana ini sebelum bertemu dengannya. Ada banyak hal yang bisa diingat dengan nyaman selama satu jam ini. Barusan, dengan hanya melihat kembali fotonya yang tertawa lebar sambil memeluk istrinya yang menggendong bayi mereka, sepuluh menit menunggu pramusaji mengantarkan teh dan sepiring donat berlalu seperti angin lembut menyenangkan. Bagus mengirimkan foto itu sebagai attachment email terakhirya minggu lalu. Dan aku segera mencetaknya di atas kertas terbaik dengan setting kualitas super printer foto tercanggih milikku.
Ia bercerita soal kedatangannya ke kota kami, salah satu kota terindah di dunia. Istrinya, Anna yang seratus persen asli Malaysia, sebenarnya memang sudah lama mendesak untuk berkunjung. "Ia bilang ingin sungkeman dengan mertuanya, tapi aku tahu ia sebenarnya ingin sekalian plesir," tergelak Dimas menceritakannya dalam email tiga bulan lalu. Dan sekarang, kebetulan dalam suasana tahun baru, mereka bisa mengambil cuti akhir tahun yang cukup panjang. Apalagi Egi bayi mereka, sudah berumur setahun lebih. Sudah tidak terlalu merepotkan lagi untuk diajak terbang berjam-jam melintasi benua.
Aku pertama kali mengenal Dimas sebenarnya dalam situasi yang tidak menyenangkan, sepuluh tahun silam. Saat itu kami sama-sama sedang teraniaya di "ruang dosa" ospek kampus baruku. Dalam suasana seperti itu orang-orang senasib seperti kami dengan segera bisa menjadi sahabat baik. Meskipun berbeda fakultas dengan jarak gedung kelas berjauhan, bisa dibilang hampir setiap hari kami bertemu, karena ternyata aku dan Dimas tinggal di rumah pondokan yang sama. Hingga lulus dan kemudian bekerja, kami memutuskan untuk tetap "menetap" di tempat tersebut.
Tak pelak lagi, setiap malam adalah malam-malam percakapan, perdebatan, hingga curhat dan saling olok-mengolok. Awalnya topik pembicaraan kami hanya berkisar soal kesibukan kuliah, aktivitas kampus, hobi masing-masing, atau permasalahan ringan lainnya.
Semakin ke sini, filosofi kehidupan, perjalanan percintaan, cita-cita hidup, dan topik yang lebih berat serta beragam lainnya mulai bermunculan.
Dimas adalah teman terbaik dalam berdiskusi. Ia adalah pendengar yang baik, walaupun bisa dibilang selama ini akulah yang banyak mengambil inisiatif obrolan atau menceritakan masalah. Ia sangat terlatih untuk mencari solusi dalam segala persoalan, kecuali satu, soal wanita.

* * *

Aku ingat sekali, malam itu pukul sembilan kurang seperepat. Dimas menyerbu masuk ke dalam kamarku. "Cantik, cantik banget, Rik!" Ia bahkan belum sempat melepas kaos kaki dan pakaian necis kerjanya hari itu. Aku yang sudah sepuluh menit terpekur di hadapan laptopku, buntu mencari ide tulisan, menoleh dan menanggapi dengan ekspresi seadanya.
"Siapa?"
"Lu gak bakalan percaya. Lu tahu, kan, hari ini gue dipindah ke cabang Sudirman, jadi tadi pagi gue naik bus 102. Lu tau apa yang gue temukan? Cewek, Man, Gile! Sebelas dari nol sampai sepuluh." Dengan sigap ia menjulurkan sepuluh jarinya---tentu saja bukan sebelas.
Aku merasa saat itu antusias Dimas membuat air mukanya terlihat bercahaya. Aku tersenyum, menutup laptop. Saatnya sekarang untuk membalas kebaikan yang selama ini sering ia lakukan untukku. Menjadi pendengar yang baik.
Miss X, begitulah nama gadis itu. Ini kata Dimas di hari kesepuluh semenjak malam ia menceritakannya untuk pertama kalinya. Tentu, aku yakin nama aslinya tak sependek itu. Tapi karena hingga hari itu, ia belum berani juga menegurnya, apalagi bertanya soal namanya, maka untuk mempermudah nama itu di percakapan rutin malam.
Berambut sebahu, lurus bagai di rebonding, hitam legam bercahaya. Matanya tajam dan indah dengan alis yang sempurna. Hidungnya elok dan proposional. Bibirnya mungil merekah bagai buah merah delima. Kulitnya putih mulus berseri dan ia memiliki tahi lalat kecil di dagunya yang belah, membuatnya berpadu semakin aduhai dengan lesung pipitnya. Gadis ini selalu mengenakan blouse warna gelap dengan rok sewarna dibawah lutut. Dan selalu pula duduk di kursi dekat jendela kiri baris dua bus patas AC tersebut.
Deskripsi yang sangat baik untuk ukuran seseorang yang hanya sempat melirik selintas ketika melewatinya menuju kursi bagian belakang bus yang masih kosong. Akan tetapi, jangan tanya soal tinggi tubuh dan parfum yang dipakainya. Dimas belum pernah melihatnya berdiri karena ia turun lebih dulu dibandingkan gadis itu. Ia juga belum pernah berkesempatan duduk di dekatnya karena tempat duduk bagian depan biasanya sudah terisi penuh setiba di halte kampus.
Meski aku tidak terlalu percaya dengan deskripsinya, masak iya ada cewek secantik itu, aku membesarkan hatinya dengan cerita-cerita percintaanku selama ini yang mengharu-haru. Tentang perasaanku ketika aku jatuh cinta pada pandangan pertama. Walaupun di sana-sini lebih banyak olok-olok yang kulemparkan padanya karena sebenarnya aku selalu jatuh cinta pada pandangan pertama dengan gadis-gadis cantik yang kukenal.
Dan Dimas menerimanya seperti anak kecil yang begitu senang didongengkan tentang sebuah epik. Nampaknya prospek topik pembicaraan malam kami satu bulan ke depan tidak akan bergeser dari isu Miss X ini. Dan sialnya, menilik keberanian Dimas selama ini, serta dari cerita-ceritanya, aku pesimis dengan sebuah kemajuan yang berarti dalam waktu dekat.
Tanpa disangka, di akhir bulan, ternyata Dimas menceritakan sebuah perkembangan baru.
"Lu tau gak Rik, tadi pagi gue berangkat jam enam pagi?"
"Tahu, kamar lu udah sepi pas gue berangkat. Memangnya lu dipindah ke cabang yang lebih jauh?"
"Nggak, Friend! Gue tadi pagi nggak nyetop bus di halte kampus. Gue ke terminal dulu"
"Loh bukannya nggak praktis seperti yang lu sering ceramah-in ke gue?" Aku malas sebenarnya  mengajukan pertanyaan ini karena sebenarnya aku tahu persis alasannya kenapa ia tiba-tiba memilih untuk berangkat lebih pagi, dan "membakar" setengah jam waktu paginya yang berharga. Sesuatu yang amat dibencinya selama ini.
Apalagi kalau bukan soal Miss X. Menunggu di terminal dan mencari kesempatan untuk duduk di sampingnya saat ia naik bus adalah strategi lumrah yang biasa aku lakukan selama ini untuk mencari cara berkenalan dengan wanita-wanita komputer---ini istilahku untuk wanita teman satu busku. Sayangnya ketika aku bertanya, apakah ia akhirnya berhasil duduk di sebelah Miss X, jawabannya mengenaskan.
"Gue nggak berani, Rik."
Bah!

* * *

Aku salah besar.
Topik pembicaraan ini ternyata menguasai dengan sempurna malam-malam diskusi kami di kos-kosan selama enam bulan berikutnya. Tiga bulan pertama sebenarnya masih mengasyikan mendengar kepolosan Dimas menceritakan perasaannya yang galau, lantas aku memperolok-oloknya. Akan tetapi, lama-kelamaan, aku kehilangan kesabaran dan selera bermain-main lagi.
Untuk ukuran kelazimanku, tingkah lau Dimas soal yang satu ini sangat memalukan. Aku bisa menerima alasan bahwa memang tidak mudah untuk menjalin hubungan dengan seorang gadis yang cantik, apalagi itu cinta pertama. Akan tetapi fakta bahwa ia menyadari sangat menyukai Miss X dan berkali-kali berkata, membuatnya untuk kemajuan yang berarti, selain menceritakan hal yang itu-itu saja. Sekali pernah Dimas menceritakan perkembangan tentang tinggi Miss X yang 165cm. Untuk tahu informasi itu Dimas memutuskan untuk mengikutinya hingga ia turun di salah satu halte jalan Thamrin. Itu saja. Semua itu membuatku jengkel setengah mati.
Aku kehilangan kesabaran atas kepengecutannya. Dan lebih gemas lagi ketika ia mencoba mencari-cari alasan untuk menjelaskannya. Lelah sudah aku menceramahinya soal Tania, macan kampus yang aku takhlukkan dengan nekad berdiri di depan rumahnya berhari-hari. Atau tentang Devi, anak kos-kosan seberang rumah yang kupikat dengan pura-pura menyukai serial televisi Friends sebagai alasan untuk meminjam koleksi DVD original miliknya.
Bulan depan, genap setahun malamku dihabiskan untuk membahas Miss X. Dan ketika aku dicemaskan kemungkinan setahun penuh ia malam-malamku mubazir dihabiskan hanya menjadi pendengar yang baik, malam itu Dimas datang ke kamarku, membahas soal lain. Minggu depan ia akan tugas belajar ke Malaysia. Aku tercengang, bukan karena surprise terbebaskan dari topik yang selama ini menjengkelkan, tapi lebih karena teramat mendadak.
"Nggak juga, sih, Rik. Sebenarnya sudah hampir enam bulan ini gue merencanakannya. Tapi, selama ini gue emang nggak sempat cerita ke lu."
Bah! Tentu saja tidak akan pernah sempat.

* * *

Semenjak itu, pembicaraan kami soal Miss X tutup buku. Benar-benar tutup buku. Dimas bahkan tak pernah membahasnya dalam email-email yang dikirimkannya setelah ia benar-benar berangkat ke Malaysia. Hanya ada satu email yang sempat menyinggung soal Miss X. Dan itu dikirimkannya ketika ia mulai mengenal Anna sebagai partner risetnya di universitas Malaysia enam bulan setelah ia berada di sana.
"Rik, setelah gue pikir-pikir, gue rasa gue bukanlah cowok pengecut seperti yang selama ini lu olok-olokkan. Buktinya sekarang gue dengan mudah bisa mengenal dan dekat dengan Anna. Semuanya berjalan begitu lancar. Gue sendiri nggak pernah merasa perlu menggunakan tips-tips dari lu."
"Tapi kenapa waktu itu sangat sulit, ya?? Gue juga nggak tahu persis kenapa. Mungkin gue pikir dialah yang menjadi masalahnya. Sosoknya terlalu kuat, friend. Terlalu memesona. Membuat gue begitu terdeterminasi. Rik, gue berani bertaruh, semua pria yang pernah mengenalnya dan memiliki perasaan suka dengannya juga mengalami kejadian seperti gue. Mungkin dia adalah kutukan yang sempurna atas sebuah kecantikan."
Aku tersenyum sambil nyengir hambar sekaligus getir.

* * *

Sekarang pukul delapan lewat dua puluh menit. Isi cangkir tehku yang kedua juga sudah habis. Pesawat yang membawa sahabatku baikku sepuluh menit lalu sudah mendarat. Dan sekarang pasti Dimas sedang menggandeng istrinya sambil menggendong kereta bayinya menyelusuri lorong-lorong bandara. Aku berdiri beranjak meninggalkan kedai fast food. Kuletakkan selembar uang dua puluh ribuan sebagai tip di atas meja. Hari ini aku sedang ingin berbagi kebaikan.
Apa yang pertama kali akan kulakukan ? Tersenyum lepas menyapa dan memeluknya ? Sekadar bersalaman menanyakan kabar ? Atau mengungkapkan segala kejadian yang ia tidak ketahui setelah ia pergi ke Malaysia ? Tiba-tiba aku berdiri dengan sebuah perasaan yang tak kukenali lagi di depan pintu keluar penumpang itu.
Ah, seandainya Dimas tahu, hari ini tepat dua tahun lamanya aku juga tersiksa. Seandainya ia tahu apa yang telah terjadi sehari setelah aku mengantar kepergiannya di bandara waktu itu.
Aku begitu terpukul melihat air mukanya yang sangat kecewa saat itu. Satu-satunya penyebab kekecewaan itu apalagi kalau bukan persoalan Miss X. Kesedihan itu semakin dalam karena Dimas tidak pernah lagi berkata-kata soal ini selama satu minggu sebelum keberangkatannya. Benarlah kata orang, terkadang sembilu lebih tajam tanpa dihujamkan. Karena itulah aku tiba-tiba menjadi begitu benci, begitu dendam pada gadis itu. Aku memutuskan untuk menemuinya di atas bus patas AC 102 pagi hari kemudian. Harus ada "perhitungan" berarti dengannya.
Tetapi ternyata kamu benar Mas, gadis itu adalah sebuah kutukan. Hingga hari ini, genap sudah dua tahun aku selalu "terpaksa" naik bus itu, padahal kamu tahu persis kantor redaksi majalahku bagaikan langit dan bumi dengan arah bus itu. Ada obsesi yang selalu memaksaku untuk melirik kursi dekat jendela sebelah kiri baris kedua dari depan itu. Ada berjuta kebahagiaan aneh-mengendalikan yang datang meski sebatas hanya memandang sekilas wajahnya yang begitu indah-. Ah, ada sebuah ekstase di sana.
Dan ternyata aku tak mampu melakukannya lebih dari itu. Hinggi hari ini. Meski hanya sekadar untuk berkata, "Hi, saya Erik. Boleh kenalan?"

* * *

Saturday, June 30, 2018

Zooplankton VS SHARK

"Bulan, kamu tuh pernah nyadar nggak, sih? Sekali saja seumur hiduo lu! Please. Dimas itu hiu! Ibarat piramida makanan, Dimas itu ada di puncaknya. Sedangkan lu persis berada di strata terbawah rantai makanan." Aku berseru jengkel. Melempar sapu tangan.
"Sudah berapa banyak coba cewek lain yang dipermainkan cinta gombal Dimas. Dia emang ganteng! Pandai sekali bicara. Romantis. Apa yang lu bilang? Dia tipe cowok yang sempurna. Itu benar. Tapi, aduh, kalau lu mau sedikit berpikir waras, lihatlah! Semua kehebatan Dimas yang lu sebut-sebut mirip banget dengan tabiat playboy kelas Internasional! Lu cuma jadi mangsa isengnya doang!" Aku menatap setengah prihatin, setengah sebal, setengah kasihan. Eh, totalnya jadi satu setengah ya? Harusnya sepertiga prihatin, sepertiga sebal, dan sepertiga kasihan.
Bulan masih menangis pelan di hadapanku. Sedih mendengar ceramahku. Apalagi pas di bagian aku menyebut-nyebut perangai buruk Dimas. Bulan menyeka ujung-ujung matanya dengan sapu tangan. Tertunduk.
 "Coba lu hitung! Ini untuk berapa kalinya Dimas nyakitin lu? Minggu lalu lu harus nunggu dia dua jam. Dia nggak datang. Dua minggu lalu dia juga bikin lu nunggu dua jam. Dia nggak datang. Juga minggu-minggu lalu. Apa alasannya? Lupa! Ada keperluan keluarga. Kakinya bisulan. Inilah! Itulah! Ampun, lu mudah banget menerima permintaan maafnya. Mudah banget mengangguk menerima penjelasannya. Anak kecil saja nggak segitunya kalau lagi dibujuk ibunya biar nggak ikut pergi, mereka pasti protes, pasti merajuk! Lu? Sempurna menerima, lantas terkulai lemah tak berdaya penuh penghargaan saat Dimas lembut mendekap bahu lu! Bah!" Ceramahku semakin panjang.
Ayu tertunduk semakin mendalam.
"Cukup! Cukup sampai malam ini saja lu nangis buat dia. Hapus air mata lu. Lu pikir setelah berkali-kali nyakitin lu, terus balik lagi, nyakitin lu lagi, balik lagi, dan seterusnya, semua ini akan berakhir baik seperti yang lu bayangkan? NGGAK! Gue udah bosan lihat lu seperti ini. Lu pikir Dimas sekarang lagi sibuk mikirin lu di saat lu sibuk nangisin dia? NGGAK! Lu liat sendiri tadi, dia asyik berduaan dengan cewek lain di kafe town square! Lu lihat dengan mata kepala lu sendiri. Itu bukan gosip sepeti yang lu yakini selama ini. Itu nyata! Dimas mempermainkan lu. Jadi cukup! Nih, HP gue, telepon Dimas sekarang! Teriak, KITA PUTUS, PENJAHAT!" Aku yang macam ketel air berdengking tanda kelewat panas di atas kompor, melempar HP ke Bulan.
Bulan lemah mengambil HP yang tergeletak di sela-sela bantal. Mengangkat kepalanya. Menatapku. Aku mengangguk meyakinkannya. "Hidupkan loudspeakernya! Gue pengin dengar suara penjahat itu!" Aku mendesis. Menyemangati.
Bulan menggigit bibir. Setelah sejenak tertunduk lagi, bergetar tangannya menekan nomor telepon Dimas.
Aku menyeringai, akhirnya Bulan berani juga!
"Maaf, sisa pulsa Anda tidak cukup untuk melakukan panggilan ini. Harap lakukan isi ulang. Tut! Tut! Tut!"
Bengong! Bulan menatapku kosong. Mukaku memerah.

* * *
Terlepas dari urusan sisa pulsa HP-ku, sepanjang minggu ini Bulan tetap tidak berhasil menghubungi Dimas. Tepatnya ia kembali ragu. Kembali berpikir ulang. "Aku harap dia akan berubahDian...." Berkata pendek, menyela ceramahku di hari lainnya. "Semua orang pasti berubah, kan?" Berkata pendek lagi. "Dia pasti akan meneleponku, menjelaskan siapa cewek itu, paling hanya saudaranya!" Tertunduk.
Dan di antara banyak dugaan Bulan yang keliru, Bulan memang benar soal Dimas pasti akan meneleponnya. Malam itu, Dimas dengan suara khas menyebalkan mengajak bertemu. Janjian makan malam. "Kita akan makan di tempat pertama kali dulu aku mengenalmu, Yang!" Dan Bulan langsung terkapar KO mendengar buncah romantisme tepu-tepu Dimas. Sama sekali tidak memedulikan aku yang menyarankannya menolak ajakan gombal tersebut.
Bulan malah berseru senang menatapku. "Lihat, kan! Akhirnya Dimas akan menjelaskan banyak hal! " Ya ampun! Bulan persis seperti anak kecil yang ngotot banget ingin ikut ibunya ke pasar. Hanya dikasih permen, ia sudah terdiam, sementara ibunya sudah pergi ke pasar.
"Gue harap lu malam ini sempat bertanya tentang siapa cewek di kafe town square itu! Gue harap lu ditengah-tengah lu mabuk akan kalimat gombal Dimas, lu sempat meminta penjelasan----" Aku menatap datar Bulan, melepasnya di depan pintu kosan. Bulan hanya tersenyum. Entah mendengarkan atau tidak pesan-pesanku yang jika tidak sengaja dihentikan masih akan berlanjut.
Tapi bagaimanalah Bulan akan ingat pesan itu, sementara makan malam mereka sempurna seperti kencan-kencan hebat mereka sebelumnya. Dimas melayani Bulan bak Putri Kerajaan. Mencium lembut punggung tangan Bulan. Menarikkan kursi buat Bulan. Menuangkan minuman buat Bulan. Mengiriskan steak buat Bulan. Lantas menatap Bulan seperti satu-satunya kekasih dunia akhiratnya. Seperti Bulan satu-satunya cewek di dunia ini. Jadi, bagaimanalah Bulan akan ingat semua dusta dan sakit hati itu?
Bulan malam itu merasa wanita paling beruntung sedunia. Bisa mendapatkan Dimas yang ganteng dan segalanya. Jadi apa pula gunanya bertanya tentang cewek yang dilihatnya bersama Dimas minggu lalu. Hanya merusak kebersamaan mereka yang indah. Kebersamaan mereka yang menyenangkan.
Hanya saja, malam itu urusan tidak berjalan normal seperti lazimnya, di tengah-tengah kalimat bermajas tinggi Dimas, di tengah-tengah belaian lembut tangannya, cewek yang dilihat Bulan minggu lalu bersama Dimas menyeruak masuk ke restoran. Dan amat marahlah cewek itu melihat Dimas sedang memegang mesra tangan Bulan. Berteriak tanpa tedeng aling-aling, "Dasar penjahat! KURANG AJAR!!" Cewek itu memang tidak seperti Bulan yang mudah sekali mengalah. Cewek itu amat marah, malah berani menampar Dimas sebelum pergi.
Lengang. Restoran itu menjadi lengang.
Wajah-wajah penasaran tertoleh. Dimas memegangi pipinya. Wajahnya memerah, menahan malu. Pelayan terhenti mengantarkan makanan. Dan Bulan, membeku di kursinya. Semua itu sungguh benar. Itu bukan gosip. Hei! Bulan bahkan tahu sekali selama ini semua itu sungguh benar!

* * *

Sayangnya, apa yang aku bilang benar. Apa yang diketahui Bulan selama ini juga benar. Hal buruk terjadi lagi. Sebulan kemudian setelah percakapan hebat itu, Bulan kembali menangis. Kali ini Dimas tega nian lalai menepati janji malam-minggu mereka. Membuatnya menunggu berjam-jam di depan town square. Yang ditunggu malah asyik berjalan berduaan dengan gebetan baru. Aku yang melihatnya tak sengaja di taman kota melaporkan ke Bulan larut malam.
"Lu tuh hanya zooplankton, Bulan! Lihat ini, zooplankton dimakan oleh ikan kecil, ikan kecil dimakan ikan sedang, ikan sedang dimakan ikan besar, dan ikan besar dimakan oleh ikan hiu! Lu persis berada di strata terbawah piramida makanan!" Aku mendesis, sekali lagi membawa keahlian teknisku sebagai peneliti di marine-biologist center.
"Dia pasti berubah...." Ayu berkata lemah.
"Berubah dari Hongkong!" Aku menjawab galak, "Kalau Dimas akhirnya kapok dan benar-benar berubah, gue bersumpah akhirnya akan pacaran dengan cowok!"
Bulan menyeringai, tahu benar kalau aku sudah bersumpah demikian, berarti aku serius. Bulan tahu sekali aku seumur-umur hidup membenci cowok. Ah, pertemananku dengan Bulan memang ganjil. Bulan sepanjang umurnya hanya dipermainkan buaya darat, aku sepanjang usiaku sibuk memasang perangkap lima lapis agar tak satu pun buaya mendekat. Saking membencinya.
Dulu pertemanan geng cewek kami berjumlah enam. Empat teman lainnya sudah sejak dua tahun silam pindah satu per satu. Menikah. Ada yang ikut suaminya. Ada yang pindah karena urusan pekerjaan. Tinggallah aku dan Bulan berdua dengan masalah masing-masing.
Terus-terang, malas sekali aku harus menemani Bulan yang kembali menangis, kembali bersedih. Lantas seminggu kemudian terlihat riang lagi. Bersemangat lagi. Begitu saja hampir setahun terakhir ini. Naik-turun. Kalau ada istilah  cukup satu kali kehilangan tongkat untuk orang-orang yang membuat kesalahan, maka Bulan sungguh cewek terbodoh yang pernah ada di dunia. Lah, tongkat yang dihilangkannya sudah bisa dibuat pagar sepanjang satu kilometer, saking tidak kapok-kapoknya ia dipermainkan Dimas. Bagiku urusan ini amat sederhana, lebih baik sendiri selamanya dibandingkan sibuk mencoba memahami cowok-cowok menyebalkan itu.
Di penghujung tahun, aku mendadak dipindah-tugaskan ke Kepulauan Natuna. Pindah,. Setelah hampir enam tahun kebersamaan kami. Empat tahun masa-masa kuliah, ditambah dua tahun sibuk merintis karir masing-masing.
"Gue harap lu akhirnya realized sesuatu, sebelum semuanya terlambat, my best friend!" Aku memeluk erat Bulan di lobby keberangkatan bandara. Menatap lembut.
"Dia akan berubah.... Dimas pasti berubah!" Bulan berbisik lemah, membalas pelukan.
Aku hanya tertawa pelan.
"Lu selalu bisa kontak gue. Lewat telepon, email, atau apalah. Lu bisa selalu curhat ke gue, meski gue selama ini bete-nya minta ampun denger cerita lu yang itu-itu doang!" Aku mencoba bergurau, tersenyum.
Aku mengangguk. Melepas pelukan.
"Gue harap lu juga menemukan seseorang di sana! Menemukan pasangan hidup." Bulan berkata pelan.
Aku tertawa lebih lebar. Nyengir. No way! Bagiku cowok selalu menyebalkan. Dulu iya, sekarang juga masih. Entah itu di mana saja. Termasuk di Natuna, kepulauan terpencil di ujung Nusantara sana. Lebih baik aku pacaran dengan flora-fauna lautan. Setidaknya penyu hijau jauh lebih setia dibandingkan Dimas dan cowok-cowok menyebalkan lainnya!
Pagi itu, untuk terakhir kalinya aku bertemu dengan Bulan. Juga untuk terakhir kalinya kami berbincang-bincang tentang Dimas. Entah kenapa sejak kepindahanku ke Kepulauan Natuna, Bulan benar-benar tidak lagi membicarakan soal Dimas. Enam bulan pertama kami masih sering berhubungan e-mail, tapi Bulan sedikit pun tidak menyinggung tentang Dimas. Lepas enam bulan itu, sempurna kami kehilangan kontak. Entahlah, mungkin Bulan sudah jauh-jauh hari merelakan kepergian Dimas, begitu aku membenak. Jadi Bulan merasa tidak perlu lagi curhat kepadaku. Keluhan yang seperti kaset tua tak bosan diputar berulang-ulang.
Mungkin Bulan akhirnya menyadari cinta nya terlalu suci buat hiu yang galak dan ganas. Tahukah kalian? Teman dekatku ini terlalu baik untuk Dimas, sang hiu. Terlalu polos memandang sebuah cinta. Selalu menerima apa adanya. Bulan sejak dulu selalu meyakini dan berharap cinta yang ia miliki cukup untuk memperbaiki banyak hal, mengubah banyak tabiat buruk. Padahal, cinta Bulan sama sekali tidak cukup untuk Dimas, sang penguasa rantai makanan.

* * *

Tanpa terasa, sempurna dua tahun berlalu.
Pesawat yang membawaku kembali dari Kepulauan Natuna mendarat mulus di bandara ibukota. Setelah terbenam lama dengan seluruh penelitian di dasar lautan, aku dapat jatah cuti sebulan. Minggu lalu, aku juga akhirnya berhasil menghubungi Bulan. Kangen.
"Sibuk, Dian! Gue lagi sibuk banget belakangan. Tapi gue pasti menyempatkan diri menjemput lu! Pasti! Meski itu hal terakhir yang harus gue lakukan di dunia ini." Bulan bergurau di ujung pesawat telepon sana.
Terdengar amat riang.
Aku ikut tersenyum, sambil memandang sunset di atas marine-biologist center Kepulauan Natuna yang persis berada di tengah-tengah lautan. Ah, kalau mendengar intonasi suara Bulan, itu pertanda setidaknya teman terbaikku sedang bahagia. Mungkin Bulan sedang bahagia dengan kesibukan barunya. Aku urung bertanya apa kesibukan barunya sekarang. Hanya bilang jadwal kedatanganku. Kemudian menutup pembicaraan. Lihatlah, matahari perlahan tenggelam di kaki cakrawala. Membuat gumpalan awan putih terlihat memerah.
Indah. Memesona.
Tentang Dimas, sang playboy yang singgah dalam kehidupannya pasti sudah lama tertinggal. Sudah selesai. Mungkin akhirnya Bulan menyadari, tak ada gunanya ia bersikukuh.
Tidak akan pernah Dimas berubah. Kalau itu terjadi, berarti dunia sudah terbolak-balik. Itu berarti aku juga harus segera menarik kesimpulanku tentang lelaki selama ini. Menebus sumpah untuk pacaran. Pacaran? Aku mendengus. Itu tidak akan pernah terjadi. Mengusap wajah. Tersenyum getir. Permukaan air laut yang menjingga, memantulkan siluet indah ke seluruh bangunan modern pusat penelitian kelautan.
Benar-benar pemandangan hebat.
Tetapi itu hanyalah pemandangan yang hebat yang kulihat seminggu lalu, saat aku menelepon Bulan mengabarkan kepulangan. Pagi ini, aku yang berdiri persis di lobby kedatangan bandara benar-benar melihat pemandangan yang jauh lebih hebat.
Ya Tuhan! Apa maksudnya?
Lihatlah, Bulan tengah repot menggendong bayi berumur satu tahun. Juga Dimas. Ya ampun! Di-mas? Aku mendesis tidak percaya. Apa aku tidak salah lihat. Mengusap mata. Benar! Dimas sedang menggendong salah satu bayi kembar mereka. "Selamat datang, my best friend!" Bulan berseru menyambut.
Tersenyum amat riang. Berkata amat riang. Lihatlah, wajah Bulan terlihat bercahaya oleh kebahagiaan. Dimas? Dimas juga tersenyum amat riangnya, tak kalah senangnya menyambut.
"Sorry, dulu nggak sempat ngabarin nikahya. Gimana mau sempat, gue kehilangan seluruh nomor kontak lu setelah pindah kosan baru. Bete tinggal di kosan lama setelah lu pindah ke Natuna. Sepi! Jadi gue pindah... Ah, ya, ini anak kembar gue. Yang ini namanya, eh, namanya Dian. Gue sama Dimas sepakat pakai nama lu, nggak pa-pa, kan? Yang satu namanya Dina." Buncah Bulan menjelaskan banyak hal.
Sementara aku menatap ekspresi keluarga kecil mereka dengan tatapan kosong. Tidak percaya. Mereka menikah?
"Ayo Dian, cayang, itu Tante Dian! Teman terbaik Mama. Aduh, akhirnya lu menghubungi gue. Gue sudah lama banget nyari kontak ke pusat penelitian itu. Kangen banget! Ah-ya, gue sibuk belakangan. Sibuk ngurusin anak-anak. Lu terlihat semakin cantik, semakin ramping. Sudah punya pacar, belum?"
Bulan dan Dimas tertawan bareng.
Ya Tuhan! Aku membeku, sama sekali tidak mendengar pertanyaan bergurau Bulan barusan. Mereka sudah menikah? Mereka malah sudah punya dua anak kembar yang ampun sungguh menggemaskan. Aku gemetar ingin menggendong Dian. Anak kecil itu menggeliat dalam pelukan Bulan, tersenyum lebar ke arahku. Aduh, lutuna! "Kalian.... Kalian menikah?" Hanya itu sepotong kalimat yang keluar dari mulutku lima menit kemudian.
"Tentu saja! Lah, ini anak siapa lagi?" Bulan tertawa. Menyerahkan Dian ke tanganku yang terjulur.
"Maksudku....Maksudku.... Bukankah Dimas...."
Aku ragu-ragu melirik Dimas. Dian dalam pelukanku jahil menarik syal. Menyeringai menggemaskan.
"Dimas sudah berubah!" Bulan tersenyum.
"Bagaimana mungkin?" Aku bahkan tidak menyadari kalau seruanku barusan sama sekali tidak sopan.
"Aku keliru." Dimas yang menjawab, tersenyum lebar kepadaku, "Aku benar-benar menyia-nyiakan cinta Bulan selama ini. Kau tahu, saat aku akhirnya menyadari betapa besar cintanya, saat itu aku merasa malu sekali."
Maka berceritalah Dimas. Sebulan setelah kepergianku, terjadilah pertengkaran mereka. Pertengkaran yang hebat. Sekali ini Bulan benar-benar tersakiti oleh tabiat Dimas. Tega Dimas berteriak kalau Bulan hanya "pacar transisi" baginya. Hanya singgah sebentar sebelum mendapatkan cewek lainnya. Transit. Tidak lebih. Tidak kurang. Benar-benar pembicaraan yang menyakitkan. Bulan tersungkur. Kesedihan mendalam. Bahkan, hampir memutuskan untuk pergi melupakan Dimas.
Dua bulan berlalu, entah apa, Dimas sang playboy kelas internasional tertimpa musibah berkali-kali. Mungkin karma dari kelakuannya. Dimas jatuh sakit berkepanjangan. Sakit yang serius, bahkan nyaris membunuhnya. Tubuh Dimas berubah kurus-kering menyedihkan, wajahnya yang tampan tinggal muka tirus kehilangan cahaya. Dan itu belum cukup, Dimas juga kehilangan pekerjaan, kehilangan seluruh materi untuk mengobati sakitnya.
Tiga bulan terbaring lemah di rumah sakit, tidak ada satu pun dari gadis-gadis itu yang mengunjunginya. Hanya Bulan. Bulan yang akhirnya tetap yakin, suatu saat hiu-nya pasti berubah. Bulan yang tetap yakin, cinta yang dimilikinya lebih dari cukup untuk merubah tabiat Dimas. Siang-malam Bulan merawat Dimas dengan telaten. Merawat dengan penuh kasih sayang. Merawat tanpa mengharapkan pamrih apa pun.
"Malam itu, hampir pukul 02.00, aku terbangun. Dengan napas sesak, dengan tubuh sakit. Sudah lebih 1 bulan aku terbaring tak berdaya di atas ranjang. Kau tahu, malam itu aku bagai melihat seorang bidadari. Sungguh! Bagai melihat malaikat cantik yang dikirimkan Tuhan kepadaku!" Dimas meneruskan cerita sambil menyeka ujung matanya, memeluk mesra Bulan yang berdiri di sebelah.
"Malaikat cinta itu adalah Bulan yang tertidur.... Bulan yang tidur di sisiku. Kepalanya ada di atas ranjang. Duduk di kursi plastik. Tangannya menggenggam tanganku. Ya Tuhan, malam itu aku malu sekali melihat wajah Bulan. Menungguiku siang-malam tanpa lelah. Ya Tuhan, aku malu sekali!" Dimas sekarang benar-benar menyeka ujung matanya. Terharu mengenang kejadian tersebut.
"Sudahlah, tidak usah dibicarakan lagi, Yang!" Bulan mendekap mesra, berusaha mengambil bayi kembar dari gendongan Dimas yang sekarang terlihat amat repot. Gimana nggak? Dimas sibuk mengendalikan harunya sambil menggendong bayi mereka.
"Sejak malam itu aku baru menyadari betapa keliru aku menterjemahkan cinta polos Bulan, cinta tanpa berharap darinya." Dimas berkata dengan suara tertahan. Menatap lembut wajah Bulan. Begitu menghargai.
Entahlah! Aku sudah tidak mendengarkan lagi ujung kalimat Dimas. Otakku mendadak dipenuhi berbagai hal. Ya ampun! Lihatlah mereka! Ternyata aku juga keliru selama ini. Tentu saja semua orang bisa berubah. Tentu saja cinta yang besar bisa menjadi energi untuk membuat perubahan tersebut. Sumpah itu? Apakah aku akan menarik pemahamanku selama ini? Aku mendesis pelan-pelan dalam hati.
Lihatlah, jika demikian adanya, maka hanya aku di antara teman-teman geng cewek kami dulu yang belum menikah. Hanya tersisa aku. Sendiri.
"Mari Zooplankton kecilku, nggak mungkin kita membuat Dian berdiri lama di sini setelah perjalanan panjangnya, kan!" Dimas mendekap mesra istrinya.
Membantu mendorong trolley-ku.
Aku bengong. Hei? Apa barusan?
"Ah ya, lu belum tahu, Dimas sekarang memanggil gue dengan Zooplankton kecil. Dan gue memanggilnya dengan sebutan Hiu Besar!" Bulan yang menjelaskan. Tertawa renyah.
Bah! Aku benar-benar terperangah!
Lantas aku apa? Cillean Filleta? Makhluk yang tidak memerlukan pasangan untuk bereproduksi selama hidupnya? Makhluk yang ditakdirkan jomblo sepanjang usianya? Hiks!

* * *

Wednesday, June 27, 2018

Kamu Naksir Aku ?

Kelakuan Ayu mirip banget dengan cewek-cewek ABG yang sedang jatuh cinta. Selalu membesar-besarkan sebuah cerita. Tertawa riang saat menceritakan hal-hal sepele. Seolah-olah, itu pertanda cinta yang sempurna kalau yang sedang ditaksirnya benar-benar juga menyukainya.
Bayangin, cowok itu keringatan saja, bisa diartikan Ayu kalau tuh cowok grogi saat ketemu dengannya. Apalagi pas liat mukanya memerah. "Aduh, aku nggak nyangka dia bakal se nervous itu, Cha! Kayaknya dia juga suka aku, deh!" Mata Ayu berbinar-binar seperti bintang kejora saat menceritakannya. Padahal kalau Ayu mau waras sedikit, jelas-jelas cowok itu sedang kepanasan karena udara saat itu panas! Tapi bagi Ayu yang sedang jatuh cinta, mana ada pikiran seperti itu.
Mungkin ada benarnya juga buku-buku itu bilang "Orang-orang yang jatuh cinta terkadang terbelenggu oleh ilusi yang diciptakan oleh hatinya sendiri". Ia tak kuasa lagi membedakan mana yang benar-benar nyata, mana yang hasil kreasi hatinya yang sedang memendam rindu. Kejadian-kejadian kecil, cukup sudah membuatnya senang. Merasa seolah-olah itu kabar baik. Padahal, saat ia tahu kalau itu hanya bualan perasaannya, maka saat itulah hatinya akan hancur berkeping-keping. Patah hati! Menuduh seseorang itu mempermainkan dirinya.
Untuk menjelaskan urusan ini dan agar pembaca paham betapa menjengkelkan kelakuan Ayu selama seminggu terakhir, akan aku daftar berbagai kejadian remeh-temeh yang justru bagi Ayu seperti pertanda terbesar dalam kehidupan cintanya. Semoga setelah kejadian itu pembaca juga bisa membandingkannya dengan kelakuan pembaca selama ini. Ternyata perasaan itu semua hanya ada di hati kalian doang. Dia? Nggak sedikit pun! Apa mau dikata, pembaca bertepuk sebelah tangan.

* * *
KEJADIAN PERTAMA

Bayu. Ganteng? Jangan ditanya.
Bayu satu kampus denganku dan Ayu. Sejak dulu Ayu sudah menjadi penggemar beratnya. Hanya saja, selama ini belum ada kesempatan. Belum ada pemicunya. Jadi ya Ayu sebatas pengagum rahasia. Paling banter hanya jadi bahan celetukan di warung tenda sepanjang jalan depan kosan saat kami makan malam. Hanya itu. Ayu belum naksir berat dengan Bayu. Samalah seperti teman-teman cewek lainnya yang asyik membicarakan cowok keren.
Celakanya, persis seminggu lalu, dimulailah seluruh rangkaian kejadian menggelikan ini. Perasaan terpesona Ayu tercungkil sudah. Malam itu selepas dari warung tenda, aku, dan Ayu berkunjung ke Bubu, kafe buku dekat kosan. Tempat yang asyik buat baca buku. Konsepnya separuh kafe, separuh toko buku. Cozy. Menyenangkan menghabiskan waktu di sana. Duduk nyaman dengan segelas jus segar. Koleksi mereka nggak sekomplet toko buku besar, tapi untuk novel-novel pop cukup memadai. Dea teman kosan juga ikut ke Bubu. Malam itu Ayu entah mengapa mau saja ikut. Padahal, ia paling benci disuruh baca novel. Hidupnya selama ini hanya dihabiskan untuk belajar.
Aku, Dea, dan Ayu duduk di salah satu sudut ruangan. Lihat tuh! Sementara aku tenggelam membaca novel hasil karya pengarang domestik amatiran, Ayu asyik mengerjakan PR kuliah! Lengang. Setengah jam berlalu begitu saja.
Dan..., coba tebak siapa yang datang persis saat jam berdentang 12 kali. Eh bercanda ding, maksudnya persis pukul 20.00. Yups, Bayu! Mengenakan jeans belel dan kaos hitam. Bayu yang berbasa-basi dengan penjaga kafe. Lantas melihat ke sekeliling. Kemudian melambaikan tangannya kepadaku. Tersenyum lebar.
Biasa saja, kan? Aku kenal baik dengan Bayu. Sama seperti Ayu juga mengenalnya. Kami jelas-jelas satu kampus. Bayu lantas rileks beranjak ke sudut ruangan. Entahlah, mungkin mencari buku yang diinginkannya. Tapi apa yang sedang dipikirkan Ayu saat itu, tiba-tibu mukanya bersemu amat merah. Aku tidak terlalu memperhatikan.
Satu jam berlalu, Satu jam yang aku berpikir biasa saja. Tidak ada kejadian penting. Hanya desis suara AC yang terdengar. Aku membawa pulang novel yang baru setengah selesai kubaca. Bubu Kafe menyediakan fasilitas pinjam-meminjam. Ayu menumpuk kertas PR-nya.
Tapi tahukah kalian apa yang terjadi ketika kami persis tiba di kamar kosan. Ayu sempurna mengajakku bicara tentang Bayu. Bertanya banyak hal, berkomentar banyak hal. Bayu! Bayu! Kemudian di sana-sini terseliplah apa yang tadi kubilang. Ilusi hati yang menipu otak.
"Dia tadi pas masuk melambaikan tangannya ke gue, Cha. Dia tersenyum lebar. Gue nggak nyangka kalau dia begitu ramah. Gue pikir orangnya sombong!"
Aku hanya mengangkat bahu. Well, siapa pula yang bilang Bayu sombong? Cowok yang baik. Siapa pun yang saling mengenal juga akan lazim saling melambaikan tangan satu sama lain, kan? Biasa saja!
"Lu tahu nggak, Cha, satu jam terakhir di Bubu Kafe, Dia sering banget ngelihat ke meja kita. Gue malah sempat bersitatap dengannya satu kali. Dia tersenyum lebaar banget."
Well, itu juga biasa saja, kan?
"Eh, nggak sekali, deh, Cha. Dua, eh kayaknya lebih dari dua kali! Duh, tampannya." Muka Ayu mulai memerah.
Aku menatapnya penuh selidik ~~ waktu itu, sih, aku belum sejengkel sekarang melihatnya. Tertawa lebar.
"Lu naksir Bayu, ya?" Menggoda.
Ayu melemparku dengan bantal guling.
"Kenapa ya dia sering banget ngelirik ke meja kita tadi?" Ayu mematut-matut. Menatap langit-langit kamar kosan.
"Itu kan perasaan lu doang, Yuu !"
"Nggak, kok. Beneran...." Ayu ngotot.
"Yaaa, lagian biasa saja, kan. Nggak selamanya orang baca selalu melotot ke bukunya. Lu juga sering satu dua kali menatap sekitar." Aku memungut guling yang jatuh. "Tapi ini beda ,Cha. Gue, kan, tahu mana lirikan yang nggak sengaja, mana yang disengaja," jawab Ayu yakin.
Aku mengangkat bahu. Sudah larut. Malas melanjutkan percakapan. Aku juga malas memikirkan kelanjutan obrolan kami. Paling hanya percakapan iseng untuk yang ke sekian kalinya. Tapi apa daya, tanpa kusadari, malam itu perasaan Ayu ke Bayu sempurna tercungkil sudah.

* * *
KEJADIAN KEDUA

Malam Berikutnya Ayu semangat banget berkunjung ke Bubu Kafe. Menyeretku. Aku hanya tertawa kecil. Dea, teman kami satu kosan lainnya ikut lagi, mau balikin buku.
Sepanjang perjalanan Ayu berkali-kali bilang, semoga Bayu ada di sana. Sebentar, bertanya tentang Bayu. Berkomentar lagi tentang Bayu. Bayu! Bayu! Bayu terus! "Eh, gue yakin banget bakal  ketemu dia, kok! Kalian kok sirik banget, sih!" Ayu menjawab sebal saat aku dan Dea menggodanya tentang penderita psikis obsesif yang sok-tahu.
Dan benar saja, Bayu ada di sana. Lagi-lagi tersenyum lebar dan melambaikan tangan. Aku pikir, saat itu Ayu agak berlebihan membalas senyum dan lambaian itu. Tapi sudahlah!
Malam itu, jadwal bacaku dua jam di Bubu Kafe mendadak berubah amat menyebalkan. Aku, Dea, dan Ayu duduk satu meja. Ayu berkali-kali menyikut lenganku setiap kali Bayu menatap meja kami. Aku terpaksa mengangkat kepala, melihat Bayu yang mengangguk ke meja kami. Aku ikut tersenyum, basa-basi membalas anggukan.
Dan itu benar jadi "bahan pembenaran" ilusi Ayu kalau Bayu memang sengaja atas berbagai lirikan tersebut saat kami kembali ke kosan.
"Apa yang gue bilang, semalam! Dia memang sengaja melihat ke meja kita, kan. Dia memang sengaja melirik gue!" Ayu berkata antusias. Pipinya merona. Membayangkan kemungkinan terindah yang ada di benaknya. "Biasa saja lagi, Yu. Lu aja yang keseringan ngelirik dia, jadi dia refleks mengangkat kepalaya. Siapa pun yang sedang diperhatikan pasti refleks menoleh ke orang yang sedang menatapnya, kan? Itu logis! Bayu hanya merasa lu terlalu sering memperhatikannya. Jadi dia juga sering melirik lu. Mahasiswa psikologi tahun pertama saja tahu analisis aksi-reaksi sederhana seperti itu, Non"! Aku mengangkat bahu, pura-pura tidak memedulikan.
"Lu kenapa, sih, nggak suka lihat teman senang?" Ayu melemparku lagi dengan bantal. Sebal.
Aku tertawa.
"Lagi pula, lu lihat sendiri apa yang gue bilang, soal Bayu pasti ada di Bubu. Benar, kan, dia ada di sana! Dia pasti sengaja menyempatkan datang buat bertemu lagi, kan. Sama seperti gu--. Eh, maksudnya sama seperti kita"!
Aku tertawa. Maksud Ayu sebenarnya sama seperti dirinya yang maksa-maksa datang lagi ke Bubu. Lazimnya kalau kalian memang ditakdirkan berjodoh, terus ada feeling satu sama lain saat pertama kali bertemu, esok-lusa kalian biasanya akan memaksakan diri untuk kembali ke tempat pertemuan pertama. Itu lumrah. Seperti ada sesuatu yang mengendalikan perasaan kalian. Tapi kasus Ayu beda banget.
Aku malas menjelaskan kalau sebenarnya Bayu memang setiap malam berkunjung ke Bubu. Bahkan jauh-jauh hari sebelum aku terbiasa datang ke sana-juga-setiap malam. Tapi malam itu aku tak bisa berhenti berpikir. Jangan-jangan Ayu benar. Tidak biasanya Bayu melirik ke meja tempatku duduk selama ini, kan? Jangan-jangan dia naksir --.
Yang jelas pasti bukan naksir Ayu! Aku mengusir jauh-jauh kemungkinan itu.

* * *
KEJADIAN KETIGA

Kali ini benar-benar membuatku jengkel sekaligus bingung. Hari ketiga. Itu persis hari ulang tahun Ayu. Malam itu kami memutuskan tidak ke Bubu, meski Ayu sengotot apa pun hendak pergi ke sana. Tapi, malam itu Ayu memang tidak merencanakan pergi ke sana.
Kami merayakan ulang tahun Ayu di salah satu warung tenda yang banyak memadati sepanjang jalan. Soto Konro. Aku, Dea, dan beberapa teman sekosan ramai memenuhi meja panjang. Ayu yang traktir. Sepanjang makan kami bukannya bilang terima-kasih, tapi justru sibuk menggoda Ayu dengan gumpal perasaannya itu. Ayu mengkal banget saat aku lagi-lagi bilang tentang itu hanya perasaannya doang, dan semua teman yang lain mengamini. Ayu mendesis kalau ia dan Bayu memang benar-benar ada feeling satu sama lainsaat bertemu di Bubu. Aku tertawa lebar. Teman-teman yang lain ikut tertawa. Tetapi, astaga! Belum habis tawaku, belum lenyap suara riuh-rendah itu, entah bagaimana penjelasannya, Bayu mendadak muncul di warung tenda itu. Dengan jaket tebal.. KEREN!
"Hei, halo semua! Eh, kalian ada di sini? Lagi kumpul semuanya? kebetulan banget." Bayu tersenyum amat gagah-nya. Membuat keributan tadi terhenti sejenak.
Dan kalian bisa membayangkan apa yang terjadi malam itu di kamar kosanku. Aku kehabisan peluru untuk memutar-balikan semua kalimat Ayu.
"Itu kebetulan, Yu! Kan, Bayu juga bilang kebetulan!" Aku mulai putus asa.
"Sengaja, Cha! Nggak mungkin dia kebetulan doang datang ke warung tenda tadi. Semua orang di planet ini juga tahu kalau gue ulang tahun malam ini." Ayu memotong, tersinggung.
"Oke, sengaja, tapi belum tentu juga pengin nemuin lu, kan? Bisa jadi sengaja pengin ketemu dengan orang lain ---"
"Siapa?" Ayu memotong galak.
Aku terdiam menggigit bibir.
Ayu menatapku tajam. Menyelidik.
"Ah, gue ngerti kenapa lu selama ini selalu membantah seluruh kalimat gue. Lu juga naksir Bayu, kan? Ayo ngaku!" Ayu mendadak tertawa.
Aku buru-buru menggeleng. Meski muka bersemu merah.
"Ayo ngaku, Cha! Lu juga naksir dia, kan? Aduh, Chacha sayang ..... kasian ..... ternyata Bayu naksir gue! Jangan patah hati, ya!" Ayu tertawa amat lebarnya. Senang dengan fakta baru tersebut. Malam itu aku yang menimpuk Ayu dengan bantal guling. Menyebalkan!

* * *
KEJADIAN KEEMPAT

Sejak malam ulang tahun Ayu, tidak ada lagi diskusi menarik antara aku dan Ayu soal Bayu. Aku bukan hanya semakin jengkel dengan laporan Ayu atas hal-hal sepele yang seolah-olah pertanda cinta terbesar miliknya. Aku juga semakin jengkel karena Ayu balas membalik kalimatku, "Lu nggak terima ya kalau Bayu ternyata beneran naksir gue?"
Dan kalimat itu sungguh membuatku salah tingkah. Baiklah, kuakui saja kalau aku memang naksir Bayu. Tapi setidaknya aku masih berpikir logis. Mana yang sebenarnya pertanda cinta, mana yang hanya sekadar kebetulan, dialog biasa, atau sejenisnyalah! Aku juga berharap selama ini Bayu akan memberikan pertanda isi hatinya, tapi bukan berarti aku yang ngarang-ngarang pertanda itu. Membiarkan hati membuat ilusi. Membiarkan hati menyimpulkan hal keliru --- yang aku tahu benar itu semua semu. Ayu hanya tertawa cekikikan saat aku mati-matian membela diri dan menjelaskan teori itu.
Aku mengumpat sebal. Berseru jengkel, semoga Ayu tidak sakit hati saat tahu kalau sebenarnya segala lirikan Bayu, senyuman Bayu, dan juga pertemuan tidak sengaja di ulang tahunnya itu sebenarnya untukku. Bukan untuknya. Ayu malah bertingkah semakin menyebalkan.
Maka datanglah kejadian keempat itu. Yang benar-benar membuat Ayu menyadari kalau ia selama ini keliru. Tadi pagi aku dan Ayu bertemu Bayu di kampus. Seperti biasa, aku pikir Ayu berlebihan bersikap. Kami membicarakan urusan biasa-biasa saja. Kuliah, dosen, dan sebagainya. Yang aku yakinn nanti bisa-bisanya Ayu menterjemahkannya jadi luar biasa.
Tapi kali ini Ayu tidak berkesempatan lagi. Entah mengapa pembicaraan mendadak menyinggung konser musik esok-malam di JHCC. "Aku punya dua tiket, lu mau ikut?--" Bayu menunjukkan dua tiket miliknya.
Ayu semangat banget mengangguk, tanpa sempat memperhatikan siapa yang dimaksud "lu" oleh Bayu.
Bayu pun tak sempat memperhatikan anggukan Ayu karena matanya tengah menatapku, menanti anggukan dari sana. Ya ampun, yang diajak ternyata aku! Senyap menggantung. Aku tidak tahu harus bilang apa saat Bayu mengajakku. Apakah aku bahagia? Apakah aku sedih? Lihatlah, Ayu hanya terdiam sepanjang sisa pertemuan di kampus. Malamnya juga mengurung diri di kamar. Patah hati.
Aku memutuskan untuk tidak pura-pura sok baik bersimpati padanya malam ini. Lihatlah, saat ilusi itu terkena cahaya kebenaran, yang tersisa hanyalah kesedihan. Sendu. Besok-besok, kalau sempat, aku akan membujuknya untuk melupakan seluruh perasaan itu.
Bayu mengajakku nonton! Nah, kalau itu jelas sudah pertanda cinta yang luar biasa. Itu benar-benar menjelaskan kenapa ia selalu tersenyum dan melambai setiap melihatku di Bubu. Selalu sembunyi-sembunyi menatap meja bacaku. Juga datang sengaja ke ulang tahun Ayu. Itu menjelaskan semuanya....
Aku bersenandung riang memikirkannya.

* * *

Esok malamnya. Aku menyiapkan gaun terbaikku. Berdandan semenarik mungkin. Lantas riang menuju jalanan depan kosan. Menunggu Bayu menjemput di depan Bubu. Sepertinya Ayu menatapku dengan mata terluka dari balik jendela. Tapi, entahlah! Aku tidak sempat memperhatikannya.
Bayu seperti biasa tersenyum lebar menemuiku. Gagah sekali. Aku benar-benar bangga bersanding bersamanya. Inilah yang disebut dengan sebenar-benarnya pertanda cinta. Bukan bualan hati yang direka-reka. Bayu melambai memanggil taksi biru. Kami melaju menuju JHCC. Bukan main. Ini akan jadi kencan yang hebat.
"Cha, aku boleh tanya sesuatu, nggak?" Bayu memutus anganku yang tengah melambung. Dia menatapku sambil tersenyum lebar.
Aku mengangguk cepat. Tersipu malu. Sesuatu?
"Tapi kamu jangan ketawa, ya?" Bayu bersemu merah.
Ya Tuhan, bagaimana mungkin aku menertawakannya. Aku semakin buncah oleh perasaan menunggu. Akhirnya.
Hening sejenak. Bayu mematut-matut apa yang akan dikatakannya. Aku tertawa melihat muka tegangnya.
"Tuh, kan! Kamu sudah ketawa duluan!"
"Sorry...Nggak, deh! Aku nggak akan tertawa!"
Bayu mengusap wajahnya yang berkeringat.
Aku menunggu dengan hati berdebar-debar.
"Eh....Ergh.....Dea tuh sudah punya pacar, belum?"
Glek! Seketika aku mematung.
"Eh.... Dd..Dea?"
"Ya, Dea. Satu kos sama lu dan Ayu, kan?"
Seketika luntur seluruh kebahagiaan itu. Kepalaku mendadak pusing. Berkunang-kunang. Aku sungguh tidak bisa mendengarkan lagi dengan jelas kalimat Bayu berikutnya.
"Cha, aku sudah lama banget naksir Dea. Beberapa hari lalu, waktu lihat lu, Ayu dan Dea di Bubu Kafe, aku nggak bisa menahan diri untuk berhenti meliriknya. Menatap wajah cantiknya. Aku dari dulu sudah mau nanya-nanya ke lu, tapi selalu cemas lu bakal ngetawain. Sayang, pas gue bilang nggak tahu kosan Ayu di mana, lu nggak mau jawab, malah kabur."
Kepalaku semakin pusing. Ternyata, ini maksud dari semua kejadian itu.
"Waktu Ayu ulang tahun aku juga sengaja datang, Cha. Biar ketemu Dea. Ampun, kenapa gue jadi mulu-maluin gini, ya? Harusnya gue bisa ngajak Dea ngobrol langsung malam itu, kan?! Tapi sudahlah! Malam ini gue ngajak lu nonton konser sebenarnya pengin nanya-nanya soal Dea. Lu nggak keberatan kan, Cha?"
Sekarang, aku benar-benar tidak lagi bisa mendengarkan kalimat Bayu. Aku sudah terkapar di atas kursi taksi. Ilusi itu! Ya Tuhan, aku sempurna tertikam oleh ilusiku sendiri. Pengkhianat oleh hatiku yang sibuk menguntai simpul pertanda cinta.
Ayu! Hiks! Ternyata kita senasib.....

***

HILANG

DIAN, hari ini ujian skripsi. Bangun pagi-pagi. Semangat. Yakin dengan semua persiapan. Tiba dikampus 45 menit sebelum pintu ruang ujian dib...