"Bulan, kamu tuh pernah nyadar nggak, sih? Sekali saja seumur hiduo lu! Please. Dimas itu hiu! Ibarat piramida makanan, Dimas itu ada di puncaknya. Sedangkan lu persis berada di strata terbawah rantai makanan." Aku berseru jengkel. Melempar sapu tangan.
"Sudah berapa banyak coba cewek lain yang dipermainkan cinta gombal Dimas. Dia emang ganteng! Pandai sekali bicara. Romantis. Apa yang lu bilang? Dia tipe cowok yang sempurna. Itu benar. Tapi, aduh, kalau lu mau sedikit berpikir waras, lihatlah! Semua kehebatan Dimas yang lu sebut-sebut mirip banget dengan tabiat playboy kelas Internasional! Lu cuma jadi mangsa isengnya doang!" Aku menatap setengah prihatin, setengah sebal, setengah kasihan. Eh, totalnya jadi satu setengah ya? Harusnya sepertiga prihatin, sepertiga sebal, dan sepertiga kasihan.
Bulan masih menangis pelan di hadapanku. Sedih mendengar ceramahku. Apalagi pas di bagian aku menyebut-nyebut perangai buruk Dimas. Bulan menyeka ujung-ujung matanya dengan sapu tangan. Tertunduk.
"Coba lu hitung! Ini untuk berapa kalinya Dimas nyakitin lu? Minggu lalu lu harus nunggu dia dua jam. Dia nggak datang. Dua minggu lalu dia juga bikin lu nunggu dua jam. Dia nggak datang. Juga minggu-minggu lalu. Apa alasannya? Lupa! Ada keperluan keluarga. Kakinya bisulan. Inilah! Itulah! Ampun, lu mudah banget menerima permintaan maafnya. Mudah banget mengangguk menerima penjelasannya. Anak kecil saja nggak segitunya kalau lagi dibujuk ibunya biar nggak ikut pergi, mereka pasti protes, pasti merajuk! Lu? Sempurna menerima, lantas terkulai lemah tak berdaya penuh penghargaan saat Dimas lembut mendekap bahu lu! Bah!" Ceramahku semakin panjang.
Ayu tertunduk semakin mendalam.
"Cukup! Cukup sampai malam ini saja lu nangis buat dia. Hapus air mata lu. Lu pikir setelah berkali-kali nyakitin lu, terus balik lagi, nyakitin lu lagi, balik lagi, dan seterusnya, semua ini akan berakhir baik seperti yang lu bayangkan? NGGAK! Gue udah bosan lihat lu seperti ini. Lu pikir Dimas sekarang lagi sibuk mikirin lu di saat lu sibuk nangisin dia? NGGAK! Lu liat sendiri tadi, dia asyik berduaan dengan cewek lain di kafe town square! Lu lihat dengan mata kepala lu sendiri. Itu bukan gosip sepeti yang lu yakini selama ini. Itu nyata! Dimas mempermainkan lu. Jadi cukup! Nih, HP gue, telepon Dimas sekarang! Teriak, KITA PUTUS, PENJAHAT!" Aku yang macam ketel air berdengking tanda kelewat panas di atas kompor, melempar HP ke Bulan.
Bulan lemah mengambil HP yang tergeletak di sela-sela bantal. Mengangkat kepalanya. Menatapku. Aku mengangguk meyakinkannya. "Hidupkan loudspeakernya! Gue pengin dengar suara penjahat itu!" Aku mendesis. Menyemangati.
Bulan menggigit bibir. Setelah sejenak tertunduk lagi, bergetar tangannya menekan nomor telepon Dimas.
Aku menyeringai, akhirnya Bulan berani juga!
"Maaf, sisa pulsa Anda tidak cukup untuk melakukan panggilan ini. Harap lakukan isi ulang. Tut! Tut! Tut!"
Bengong! Bulan menatapku kosong. Mukaku memerah.
* * *
Terlepas dari urusan sisa pulsa HP-ku, sepanjang minggu ini Bulan tetap tidak berhasil menghubungi Dimas. Tepatnya ia kembali ragu. Kembali berpikir ulang. "Aku harap dia akan berubah, Dian...." Berkata pendek, menyela ceramahku di hari lainnya. "Semua orang pasti berubah, kan?" Berkata pendek lagi. "Dia pasti akan meneleponku, menjelaskan siapa cewek itu, paling hanya saudaranya!" Tertunduk.
Dan di antara banyak dugaan Bulan yang keliru, Bulan memang benar soal Dimas pasti akan meneleponnya. Malam itu, Dimas dengan suara khas menyebalkan mengajak bertemu. Janjian makan malam. "Kita akan makan di tempat pertama kali dulu aku mengenalmu, Yang!" Dan Bulan langsung terkapar KO mendengar buncah romantisme tepu-tepu Dimas. Sama sekali tidak memedulikan aku yang menyarankannya menolak ajakan gombal tersebut.
Bulan malah berseru senang menatapku. "Lihat, kan! Akhirnya Dimas akan menjelaskan banyak hal! " Ya ampun! Bulan persis seperti anak kecil yang ngotot banget ingin ikut ibunya ke pasar. Hanya dikasih permen, ia sudah terdiam, sementara ibunya sudah pergi ke pasar.
"Gue harap lu malam ini sempat bertanya tentang siapa cewek di kafe town square itu! Gue harap lu ditengah-tengah lu mabuk akan kalimat gombal Dimas, lu sempat meminta penjelasan----" Aku menatap datar Bulan, melepasnya di depan pintu kosan. Bulan hanya tersenyum. Entah mendengarkan atau tidak pesan-pesanku yang jika tidak sengaja dihentikan masih akan berlanjut.
Tapi bagaimanalah Bulan akan ingat pesan itu, sementara makan malam mereka sempurna seperti kencan-kencan hebat mereka sebelumnya. Dimas melayani Bulan bak Putri Kerajaan. Mencium lembut punggung tangan Bulan. Menarikkan kursi buat Bulan. Menuangkan minuman buat Bulan. Mengiriskan steak buat Bulan. Lantas menatap Bulan seperti satu-satunya kekasih dunia akhiratnya. Seperti Bulan satu-satunya cewek di dunia ini. Jadi, bagaimanalah Bulan akan ingat semua dusta dan sakit hati itu?
Bulan malam itu merasa wanita paling beruntung sedunia. Bisa mendapatkan Dimas yang ganteng dan segalanya. Jadi apa pula gunanya bertanya tentang cewek yang dilihatnya bersama Dimas minggu lalu. Hanya merusak kebersamaan mereka yang indah. Kebersamaan mereka yang menyenangkan.
Hanya saja, malam itu urusan tidak berjalan normal seperti lazimnya, di tengah-tengah kalimat bermajas tinggi Dimas, di tengah-tengah belaian lembut tangannya, cewek yang dilihat Bulan minggu lalu bersama Dimas menyeruak masuk ke restoran. Dan amat marahlah cewek itu melihat Dimas sedang memegang mesra tangan Bulan. Berteriak tanpa tedeng aling-aling, "Dasar penjahat! KURANG AJAR!!" Cewek itu memang tidak seperti Bulan yang mudah sekali mengalah. Cewek itu amat marah, malah berani menampar Dimas sebelum pergi.
Lengang. Restoran itu menjadi lengang.
Wajah-wajah penasaran tertoleh. Dimas memegangi pipinya. Wajahnya memerah, menahan malu. Pelayan terhenti mengantarkan makanan. Dan Bulan, membeku di kursinya. Semua itu sungguh benar. Itu bukan gosip. Hei! Bulan bahkan tahu sekali selama ini semua itu sungguh benar!
* * *
Sayangnya, apa yang aku bilang benar. Apa yang diketahui Bulan selama ini juga benar. Hal buruk terjadi lagi. Sebulan kemudian setelah percakapan hebat itu, Bulan kembali menangis. Kali ini Dimas tega nian lalai menepati janji malam-minggu mereka. Membuatnya menunggu berjam-jam di depan town square. Yang ditunggu malah asyik berjalan berduaan dengan gebetan baru. Aku yang melihatnya tak sengaja di taman kota melaporkan ke Bulan larut malam.
"Lu tuh hanya zooplankton, Bulan! Lihat ini, zooplankton dimakan oleh ikan kecil, ikan kecil dimakan ikan sedang, ikan sedang dimakan ikan besar, dan ikan besar dimakan oleh ikan hiu! Lu persis berada di strata terbawah piramida makanan!" Aku mendesis, sekali lagi membawa keahlian teknisku sebagai peneliti di marine-biologist center.
"Dia pasti berubah...." Ayu berkata lemah.
"Berubah dari Hongkong!" Aku menjawab galak, "Kalau Dimas akhirnya kapok dan benar-benar berubah, gue bersumpah akhirnya akan pacaran dengan cowok!"
Bulan menyeringai, tahu benar kalau aku sudah bersumpah demikian, berarti aku serius. Bulan tahu sekali aku seumur-umur hidup membenci cowok. Ah, pertemananku dengan Bulan memang ganjil. Bulan sepanjang umurnya hanya dipermainkan buaya darat, aku sepanjang usiaku sibuk memasang perangkap lima lapis agar tak satu pun buaya mendekat. Saking membencinya.
Dulu pertemanan geng cewek kami berjumlah enam. Empat teman lainnya sudah sejak dua tahun silam pindah satu per satu. Menikah. Ada yang ikut suaminya. Ada yang pindah karena urusan pekerjaan. Tinggallah aku dan Bulan berdua dengan masalah masing-masing.
Terus-terang, malas sekali aku harus menemani Bulan yang kembali menangis, kembali bersedih. Lantas seminggu kemudian terlihat riang lagi. Bersemangat lagi. Begitu saja hampir setahun terakhir ini. Naik-turun. Kalau ada istilah cukup satu kali kehilangan tongkat untuk orang-orang yang membuat kesalahan, maka Bulan sungguh cewek terbodoh yang pernah ada di dunia. Lah, tongkat yang dihilangkannya sudah bisa dibuat pagar sepanjang satu kilometer, saking tidak kapok-kapoknya ia dipermainkan Dimas. Bagiku urusan ini amat sederhana, lebih baik sendiri selamanya dibandingkan sibuk mencoba memahami cowok-cowok menyebalkan itu.
Di penghujung tahun, aku mendadak dipindah-tugaskan ke Kepulauan Natuna. Pindah,. Setelah hampir enam tahun kebersamaan kami. Empat tahun masa-masa kuliah, ditambah dua tahun sibuk merintis karir masing-masing.
"Gue harap lu akhirnya realized sesuatu, sebelum semuanya terlambat, my best friend!" Aku memeluk erat Bulan di lobby keberangkatan bandara. Menatap lembut.
"Dia akan berubah.... Dimas pasti berubah!" Bulan berbisik lemah, membalas pelukan.
Aku hanya tertawa pelan.
"Lu selalu bisa kontak gue. Lewat telepon, email, atau apalah. Lu bisa selalu curhat ke gue, meski gue selama ini bete-nya minta ampun denger cerita lu yang itu-itu doang!" Aku mencoba bergurau, tersenyum.
Aku mengangguk. Melepas pelukan.
"Gue harap lu juga menemukan seseorang di sana! Menemukan pasangan hidup." Bulan berkata pelan.
Aku tertawa lebih lebar. Nyengir. No way! Bagiku cowok selalu menyebalkan. Dulu iya, sekarang juga masih. Entah itu di mana saja. Termasuk di Natuna, kepulauan terpencil di ujung Nusantara sana. Lebih baik aku pacaran dengan flora-fauna lautan. Setidaknya penyu hijau jauh lebih setia dibandingkan Dimas dan cowok-cowok menyebalkan lainnya!
Pagi itu, untuk terakhir kalinya aku bertemu dengan Bulan. Juga untuk terakhir kalinya kami berbincang-bincang tentang Dimas. Entah kenapa sejak kepindahanku ke Kepulauan Natuna, Bulan benar-benar tidak lagi membicarakan soal Dimas. Enam bulan pertama kami masih sering berhubungan e-mail, tapi Bulan sedikit pun tidak menyinggung tentang Dimas. Lepas enam bulan itu, sempurna kami kehilangan kontak. Entahlah, mungkin Bulan sudah jauh-jauh hari merelakan kepergian Dimas, begitu aku membenak. Jadi Bulan merasa tidak perlu lagi curhat kepadaku. Keluhan yang seperti kaset tua tak bosan diputar berulang-ulang.
Mungkin Bulan akhirnya menyadari cinta nya terlalu suci buat hiu yang galak dan ganas. Tahukah kalian? Teman dekatku ini terlalu baik untuk Dimas, sang hiu. Terlalu polos memandang sebuah cinta. Selalu menerima apa adanya. Bulan sejak dulu selalu meyakini dan berharap cinta yang ia miliki cukup untuk memperbaiki banyak hal, mengubah banyak tabiat buruk. Padahal, cinta Bulan sama sekali tidak cukup untuk Dimas, sang penguasa rantai makanan.
Terus-terang, malas sekali aku harus menemani Bulan yang kembali menangis, kembali bersedih. Lantas seminggu kemudian terlihat riang lagi. Bersemangat lagi. Begitu saja hampir setahun terakhir ini. Naik-turun. Kalau ada istilah cukup satu kali kehilangan tongkat untuk orang-orang yang membuat kesalahan, maka Bulan sungguh cewek terbodoh yang pernah ada di dunia. Lah, tongkat yang dihilangkannya sudah bisa dibuat pagar sepanjang satu kilometer, saking tidak kapok-kapoknya ia dipermainkan Dimas. Bagiku urusan ini amat sederhana, lebih baik sendiri selamanya dibandingkan sibuk mencoba memahami cowok-cowok menyebalkan itu.
Di penghujung tahun, aku mendadak dipindah-tugaskan ke Kepulauan Natuna. Pindah,. Setelah hampir enam tahun kebersamaan kami. Empat tahun masa-masa kuliah, ditambah dua tahun sibuk merintis karir masing-masing.
"Gue harap lu akhirnya realized sesuatu, sebelum semuanya terlambat, my best friend!" Aku memeluk erat Bulan di lobby keberangkatan bandara. Menatap lembut.
"Dia akan berubah.... Dimas pasti berubah!" Bulan berbisik lemah, membalas pelukan.
Aku hanya tertawa pelan.
"Lu selalu bisa kontak gue. Lewat telepon, email, atau apalah. Lu bisa selalu curhat ke gue, meski gue selama ini bete-nya minta ampun denger cerita lu yang itu-itu doang!" Aku mencoba bergurau, tersenyum.
Aku mengangguk. Melepas pelukan.
"Gue harap lu juga menemukan seseorang di sana! Menemukan pasangan hidup." Bulan berkata pelan.
Aku tertawa lebih lebar. Nyengir. No way! Bagiku cowok selalu menyebalkan. Dulu iya, sekarang juga masih. Entah itu di mana saja. Termasuk di Natuna, kepulauan terpencil di ujung Nusantara sana. Lebih baik aku pacaran dengan flora-fauna lautan. Setidaknya penyu hijau jauh lebih setia dibandingkan Dimas dan cowok-cowok menyebalkan lainnya!
Pagi itu, untuk terakhir kalinya aku bertemu dengan Bulan. Juga untuk terakhir kalinya kami berbincang-bincang tentang Dimas. Entah kenapa sejak kepindahanku ke Kepulauan Natuna, Bulan benar-benar tidak lagi membicarakan soal Dimas. Enam bulan pertama kami masih sering berhubungan e-mail, tapi Bulan sedikit pun tidak menyinggung tentang Dimas. Lepas enam bulan itu, sempurna kami kehilangan kontak. Entahlah, mungkin Bulan sudah jauh-jauh hari merelakan kepergian Dimas, begitu aku membenak. Jadi Bulan merasa tidak perlu lagi curhat kepadaku. Keluhan yang seperti kaset tua tak bosan diputar berulang-ulang.
Mungkin Bulan akhirnya menyadari cinta nya terlalu suci buat hiu yang galak dan ganas. Tahukah kalian? Teman dekatku ini terlalu baik untuk Dimas, sang hiu. Terlalu polos memandang sebuah cinta. Selalu menerima apa adanya. Bulan sejak dulu selalu meyakini dan berharap cinta yang ia miliki cukup untuk memperbaiki banyak hal, mengubah banyak tabiat buruk. Padahal, cinta Bulan sama sekali tidak cukup untuk Dimas, sang penguasa rantai makanan.
* * *
Tanpa terasa, sempurna dua tahun berlalu.
Pesawat yang membawaku kembali dari Kepulauan Natuna mendarat mulus di bandara ibukota. Setelah terbenam lama dengan seluruh penelitian di dasar lautan, aku dapat jatah cuti sebulan. Minggu lalu, aku juga akhirnya berhasil menghubungi Bulan. Kangen.
"Sibuk, Dian! Gue lagi sibuk banget belakangan. Tapi gue pasti menyempatkan diri menjemput lu! Pasti! Meski itu hal terakhir yang harus gue lakukan di dunia ini." Bulan bergurau di ujung pesawat telepon sana.
Terdengar amat riang.
Aku ikut tersenyum, sambil memandang sunset di atas marine-biologist center Kepulauan Natuna yang persis berada di tengah-tengah lautan. Ah, kalau mendengar intonasi suara Bulan, itu pertanda setidaknya teman terbaikku sedang bahagia. Mungkin Bulan sedang bahagia dengan kesibukan barunya. Aku urung bertanya apa kesibukan barunya sekarang. Hanya bilang jadwal kedatanganku. Kemudian menutup pembicaraan. Lihatlah, matahari perlahan tenggelam di kaki cakrawala. Membuat gumpalan awan putih terlihat memerah.
Indah. Memesona.
Tentang Dimas, sang playboy yang singgah dalam kehidupannya pasti sudah lama tertinggal. Sudah selesai. Mungkin akhirnya Bulan menyadari, tak ada gunanya ia bersikukuh.
Tidak akan pernah Dimas berubah. Kalau itu terjadi, berarti dunia sudah terbolak-balik. Itu berarti aku juga harus segera menarik kesimpulanku tentang lelaki selama ini. Menebus sumpah untuk pacaran. Pacaran? Aku mendengus. Itu tidak akan pernah terjadi. Mengusap wajah. Tersenyum getir. Permukaan air laut yang menjingga, memantulkan siluet indah ke seluruh bangunan modern pusat penelitian kelautan.
Benar-benar pemandangan hebat.
Tetapi itu hanyalah pemandangan yang hebat yang kulihat seminggu lalu, saat aku menelepon Bulan mengabarkan kepulangan. Pagi ini, aku yang berdiri persis di lobby kedatangan bandara benar-benar melihat pemandangan yang jauh lebih hebat.
Ya Tuhan! Apa maksudnya?
Lihatlah, Bulan tengah repot menggendong bayi berumur satu tahun. Juga Dimas. Ya ampun! Di-mas? Aku mendesis tidak percaya. Apa aku tidak salah lihat. Mengusap mata. Benar! Dimas sedang menggendong salah satu bayi kembar mereka. "Selamat datang, my best friend!" Bulan berseru menyambut.
Tersenyum amat riang. Berkata amat riang. Lihatlah, wajah Bulan terlihat bercahaya oleh kebahagiaan. Dimas? Dimas juga tersenyum amat riangnya, tak kalah senangnya menyambut.
"Sorry, dulu nggak sempat ngabarin nikahya. Gimana mau sempat, gue kehilangan seluruh nomor kontak lu setelah pindah kosan baru. Bete tinggal di kosan lama setelah lu pindah ke Natuna. Sepi! Jadi gue pindah... Ah, ya, ini anak kembar gue. Yang ini namanya, eh, namanya Dian. Gue sama Dimas sepakat pakai nama lu, nggak pa-pa, kan? Yang satu namanya Dina." Buncah Bulan menjelaskan banyak hal.
Sementara aku menatap ekspresi keluarga kecil mereka dengan tatapan kosong. Tidak percaya. Mereka menikah?
"Ayo Dian, cayang, itu Tante Dian! Teman terbaik Mama. Aduh, akhirnya lu menghubungi gue. Gue sudah lama banget nyari kontak ke pusat penelitian itu. Kangen banget! Ah-ya, gue sibuk belakangan. Sibuk ngurusin anak-anak. Lu terlihat semakin cantik, semakin ramping. Sudah punya pacar, belum?"
Bulan dan Dimas tertawan bareng.
Ya Tuhan! Aku membeku, sama sekali tidak mendengar pertanyaan bergurau Bulan barusan. Mereka sudah menikah? Mereka malah sudah punya dua anak kembar yang ampun sungguh menggemaskan. Aku gemetar ingin menggendong Dian. Anak kecil itu menggeliat dalam pelukan Bulan, tersenyum lebar ke arahku. Aduh, lutuna! "Kalian.... Kalian menikah?" Hanya itu sepotong kalimat yang keluar dari mulutku lima menit kemudian.
"Tentu saja! Lah, ini anak siapa lagi?" Bulan tertawa. Menyerahkan Dian ke tanganku yang terjulur.
"Maksudku....Maksudku.... Bukankah Dimas...."
Aku ragu-ragu melirik Dimas. Dian dalam pelukanku jahil menarik syal. Menyeringai menggemaskan.
"Dimas sudah berubah!" Bulan tersenyum.
"Bagaimana mungkin?" Aku bahkan tidak menyadari kalau seruanku barusan sama sekali tidak sopan.
"Aku keliru." Dimas yang menjawab, tersenyum lebar kepadaku, "Aku benar-benar menyia-nyiakan cinta Bulan selama ini. Kau tahu, saat aku akhirnya menyadari betapa besar cintanya, saat itu aku merasa malu sekali."
Maka berceritalah Dimas. Sebulan setelah kepergianku, terjadilah pertengkaran mereka. Pertengkaran yang hebat. Sekali ini Bulan benar-benar tersakiti oleh tabiat Dimas. Tega Dimas berteriak kalau Bulan hanya "pacar transisi" baginya. Hanya singgah sebentar sebelum mendapatkan cewek lainnya. Transit. Tidak lebih. Tidak kurang. Benar-benar pembicaraan yang menyakitkan. Bulan tersungkur. Kesedihan mendalam. Bahkan, hampir memutuskan untuk pergi melupakan Dimas.
Dua bulan berlalu, entah apa, Dimas sang playboy kelas internasional tertimpa musibah berkali-kali. Mungkin karma dari kelakuannya. Dimas jatuh sakit berkepanjangan. Sakit yang serius, bahkan nyaris membunuhnya. Tubuh Dimas berubah kurus-kering menyedihkan, wajahnya yang tampan tinggal muka tirus kehilangan cahaya. Dan itu belum cukup, Dimas juga kehilangan pekerjaan, kehilangan seluruh materi untuk mengobati sakitnya.
Tiga bulan terbaring lemah di rumah sakit, tidak ada satu pun dari gadis-gadis itu yang mengunjunginya. Hanya Bulan. Bulan yang akhirnya tetap yakin, suatu saat hiu-nya pasti berubah. Bulan yang tetap yakin, cinta yang dimilikinya lebih dari cukup untuk merubah tabiat Dimas. Siang-malam Bulan merawat Dimas dengan telaten. Merawat dengan penuh kasih sayang. Merawat tanpa mengharapkan pamrih apa pun.
"Malam itu, hampir pukul 02.00, aku terbangun. Dengan napas sesak, dengan tubuh sakit. Sudah lebih 1 bulan aku terbaring tak berdaya di atas ranjang. Kau tahu, malam itu aku bagai melihat seorang bidadari. Sungguh! Bagai melihat malaikat cantik yang dikirimkan Tuhan kepadaku!" Dimas meneruskan cerita sambil menyeka ujung matanya, memeluk mesra Bulan yang berdiri di sebelah.
"Malaikat cinta itu adalah Bulan yang tertidur.... Bulan yang tidur di sisiku. Kepalanya ada di atas ranjang. Duduk di kursi plastik. Tangannya menggenggam tanganku. Ya Tuhan, malam itu aku malu sekali melihat wajah Bulan. Menungguiku siang-malam tanpa lelah. Ya Tuhan, aku malu sekali!" Dimas sekarang benar-benar menyeka ujung matanya. Terharu mengenang kejadian tersebut.
"Sudahlah, tidak usah dibicarakan lagi, Yang!" Bulan mendekap mesra, berusaha mengambil bayi kembar dari gendongan Dimas yang sekarang terlihat amat repot. Gimana nggak? Dimas sibuk mengendalikan harunya sambil menggendong bayi mereka.
"Sejak malam itu aku baru menyadari betapa keliru aku menterjemahkan cinta polos Bulan, cinta tanpa berharap darinya." Dimas berkata dengan suara tertahan. Menatap lembut wajah Bulan. Begitu menghargai.
Entahlah! Aku sudah tidak mendengarkan lagi ujung kalimat Dimas. Otakku mendadak dipenuhi berbagai hal. Ya ampun! Lihatlah mereka! Ternyata aku juga keliru selama ini. Tentu saja semua orang bisa berubah. Tentu saja cinta yang besar bisa menjadi energi untuk membuat perubahan tersebut. Sumpah itu? Apakah aku akan menarik pemahamanku selama ini? Aku mendesis pelan-pelan dalam hati.
Lihatlah, jika demikian adanya, maka hanya aku di antara teman-teman geng cewek kami dulu yang belum menikah. Hanya tersisa aku. Sendiri.
"Mari Zooplankton kecilku, nggak mungkin kita membuat Dian berdiri lama di sini setelah perjalanan panjangnya, kan!" Dimas mendekap mesra istrinya.
Membantu mendorong trolley-ku.
Aku bengong. Hei? Apa barusan?
"Ah ya, lu belum tahu, Dimas sekarang memanggil gue dengan Zooplankton kecil. Dan gue memanggilnya dengan sebutan Hiu Besar!" Bulan yang menjelaskan. Tertawa renyah.
Bah! Aku benar-benar terperangah!
Lantas aku apa? Cillean Filleta? Makhluk yang tidak memerlukan pasangan untuk bereproduksi selama hidupnya? Makhluk yang ditakdirkan jomblo sepanjang usianya? Hiks!
"Malam itu, hampir pukul 02.00, aku terbangun. Dengan napas sesak, dengan tubuh sakit. Sudah lebih 1 bulan aku terbaring tak berdaya di atas ranjang. Kau tahu, malam itu aku bagai melihat seorang bidadari. Sungguh! Bagai melihat malaikat cantik yang dikirimkan Tuhan kepadaku!" Dimas meneruskan cerita sambil menyeka ujung matanya, memeluk mesra Bulan yang berdiri di sebelah.
"Malaikat cinta itu adalah Bulan yang tertidur.... Bulan yang tidur di sisiku. Kepalanya ada di atas ranjang. Duduk di kursi plastik. Tangannya menggenggam tanganku. Ya Tuhan, malam itu aku malu sekali melihat wajah Bulan. Menungguiku siang-malam tanpa lelah. Ya Tuhan, aku malu sekali!" Dimas sekarang benar-benar menyeka ujung matanya. Terharu mengenang kejadian tersebut.
"Sudahlah, tidak usah dibicarakan lagi, Yang!" Bulan mendekap mesra, berusaha mengambil bayi kembar dari gendongan Dimas yang sekarang terlihat amat repot. Gimana nggak? Dimas sibuk mengendalikan harunya sambil menggendong bayi mereka.
"Sejak malam itu aku baru menyadari betapa keliru aku menterjemahkan cinta polos Bulan, cinta tanpa berharap darinya." Dimas berkata dengan suara tertahan. Menatap lembut wajah Bulan. Begitu menghargai.
Entahlah! Aku sudah tidak mendengarkan lagi ujung kalimat Dimas. Otakku mendadak dipenuhi berbagai hal. Ya ampun! Lihatlah mereka! Ternyata aku juga keliru selama ini. Tentu saja semua orang bisa berubah. Tentu saja cinta yang besar bisa menjadi energi untuk membuat perubahan tersebut. Sumpah itu? Apakah aku akan menarik pemahamanku selama ini? Aku mendesis pelan-pelan dalam hati.
Lihatlah, jika demikian adanya, maka hanya aku di antara teman-teman geng cewek kami dulu yang belum menikah. Hanya tersisa aku. Sendiri.
"Mari Zooplankton kecilku, nggak mungkin kita membuat Dian berdiri lama di sini setelah perjalanan panjangnya, kan!" Dimas mendekap mesra istrinya.
Membantu mendorong trolley-ku.
Aku bengong. Hei? Apa barusan?
"Ah ya, lu belum tahu, Dimas sekarang memanggil gue dengan Zooplankton kecil. Dan gue memanggilnya dengan sebutan Hiu Besar!" Bulan yang menjelaskan. Tertawa renyah.
Bah! Aku benar-benar terperangah!
Lantas aku apa? Cillean Filleta? Makhluk yang tidak memerlukan pasangan untuk bereproduksi selama hidupnya? Makhluk yang ditakdirkan jomblo sepanjang usianya? Hiks!
* * *