Rahasia Hati

element rahasia hati

Listen, download from here

Wednesday, June 27, 2018

Kamu Naksir Aku ?

Kelakuan Ayu mirip banget dengan cewek-cewek ABG yang sedang jatuh cinta. Selalu membesar-besarkan sebuah cerita. Tertawa riang saat menceritakan hal-hal sepele. Seolah-olah, itu pertanda cinta yang sempurna kalau yang sedang ditaksirnya benar-benar juga menyukainya.
Bayangin, cowok itu keringatan saja, bisa diartikan Ayu kalau tuh cowok grogi saat ketemu dengannya. Apalagi pas liat mukanya memerah. "Aduh, aku nggak nyangka dia bakal se nervous itu, Cha! Kayaknya dia juga suka aku, deh!" Mata Ayu berbinar-binar seperti bintang kejora saat menceritakannya. Padahal kalau Ayu mau waras sedikit, jelas-jelas cowok itu sedang kepanasan karena udara saat itu panas! Tapi bagi Ayu yang sedang jatuh cinta, mana ada pikiran seperti itu.
Mungkin ada benarnya juga buku-buku itu bilang "Orang-orang yang jatuh cinta terkadang terbelenggu oleh ilusi yang diciptakan oleh hatinya sendiri". Ia tak kuasa lagi membedakan mana yang benar-benar nyata, mana yang hasil kreasi hatinya yang sedang memendam rindu. Kejadian-kejadian kecil, cukup sudah membuatnya senang. Merasa seolah-olah itu kabar baik. Padahal, saat ia tahu kalau itu hanya bualan perasaannya, maka saat itulah hatinya akan hancur berkeping-keping. Patah hati! Menuduh seseorang itu mempermainkan dirinya.
Untuk menjelaskan urusan ini dan agar pembaca paham betapa menjengkelkan kelakuan Ayu selama seminggu terakhir, akan aku daftar berbagai kejadian remeh-temeh yang justru bagi Ayu seperti pertanda terbesar dalam kehidupan cintanya. Semoga setelah kejadian itu pembaca juga bisa membandingkannya dengan kelakuan pembaca selama ini. Ternyata perasaan itu semua hanya ada di hati kalian doang. Dia? Nggak sedikit pun! Apa mau dikata, pembaca bertepuk sebelah tangan.

* * *
KEJADIAN PERTAMA

Bayu. Ganteng? Jangan ditanya.
Bayu satu kampus denganku dan Ayu. Sejak dulu Ayu sudah menjadi penggemar beratnya. Hanya saja, selama ini belum ada kesempatan. Belum ada pemicunya. Jadi ya Ayu sebatas pengagum rahasia. Paling banter hanya jadi bahan celetukan di warung tenda sepanjang jalan depan kosan saat kami makan malam. Hanya itu. Ayu belum naksir berat dengan Bayu. Samalah seperti teman-teman cewek lainnya yang asyik membicarakan cowok keren.
Celakanya, persis seminggu lalu, dimulailah seluruh rangkaian kejadian menggelikan ini. Perasaan terpesona Ayu tercungkil sudah. Malam itu selepas dari warung tenda, aku, dan Ayu berkunjung ke Bubu, kafe buku dekat kosan. Tempat yang asyik buat baca buku. Konsepnya separuh kafe, separuh toko buku. Cozy. Menyenangkan menghabiskan waktu di sana. Duduk nyaman dengan segelas jus segar. Koleksi mereka nggak sekomplet toko buku besar, tapi untuk novel-novel pop cukup memadai. Dea teman kosan juga ikut ke Bubu. Malam itu Ayu entah mengapa mau saja ikut. Padahal, ia paling benci disuruh baca novel. Hidupnya selama ini hanya dihabiskan untuk belajar.
Aku, Dea, dan Ayu duduk di salah satu sudut ruangan. Lihat tuh! Sementara aku tenggelam membaca novel hasil karya pengarang domestik amatiran, Ayu asyik mengerjakan PR kuliah! Lengang. Setengah jam berlalu begitu saja.
Dan..., coba tebak siapa yang datang persis saat jam berdentang 12 kali. Eh bercanda ding, maksudnya persis pukul 20.00. Yups, Bayu! Mengenakan jeans belel dan kaos hitam. Bayu yang berbasa-basi dengan penjaga kafe. Lantas melihat ke sekeliling. Kemudian melambaikan tangannya kepadaku. Tersenyum lebar.
Biasa saja, kan? Aku kenal baik dengan Bayu. Sama seperti Ayu juga mengenalnya. Kami jelas-jelas satu kampus. Bayu lantas rileks beranjak ke sudut ruangan. Entahlah, mungkin mencari buku yang diinginkannya. Tapi apa yang sedang dipikirkan Ayu saat itu, tiba-tibu mukanya bersemu amat merah. Aku tidak terlalu memperhatikan.
Satu jam berlalu, Satu jam yang aku berpikir biasa saja. Tidak ada kejadian penting. Hanya desis suara AC yang terdengar. Aku membawa pulang novel yang baru setengah selesai kubaca. Bubu Kafe menyediakan fasilitas pinjam-meminjam. Ayu menumpuk kertas PR-nya.
Tapi tahukah kalian apa yang terjadi ketika kami persis tiba di kamar kosan. Ayu sempurna mengajakku bicara tentang Bayu. Bertanya banyak hal, berkomentar banyak hal. Bayu! Bayu! Kemudian di sana-sini terseliplah apa yang tadi kubilang. Ilusi hati yang menipu otak.
"Dia tadi pas masuk melambaikan tangannya ke gue, Cha. Dia tersenyum lebar. Gue nggak nyangka kalau dia begitu ramah. Gue pikir orangnya sombong!"
Aku hanya mengangkat bahu. Well, siapa pula yang bilang Bayu sombong? Cowok yang baik. Siapa pun yang saling mengenal juga akan lazim saling melambaikan tangan satu sama lain, kan? Biasa saja!
"Lu tahu nggak, Cha, satu jam terakhir di Bubu Kafe, Dia sering banget ngelihat ke meja kita. Gue malah sempat bersitatap dengannya satu kali. Dia tersenyum lebaar banget."
Well, itu juga biasa saja, kan?
"Eh, nggak sekali, deh, Cha. Dua, eh kayaknya lebih dari dua kali! Duh, tampannya." Muka Ayu mulai memerah.
Aku menatapnya penuh selidik ~~ waktu itu, sih, aku belum sejengkel sekarang melihatnya. Tertawa lebar.
"Lu naksir Bayu, ya?" Menggoda.
Ayu melemparku dengan bantal guling.
"Kenapa ya dia sering banget ngelirik ke meja kita tadi?" Ayu mematut-matut. Menatap langit-langit kamar kosan.
"Itu kan perasaan lu doang, Yuu !"
"Nggak, kok. Beneran...." Ayu ngotot.
"Yaaa, lagian biasa saja, kan. Nggak selamanya orang baca selalu melotot ke bukunya. Lu juga sering satu dua kali menatap sekitar." Aku memungut guling yang jatuh. "Tapi ini beda ,Cha. Gue, kan, tahu mana lirikan yang nggak sengaja, mana yang disengaja," jawab Ayu yakin.
Aku mengangkat bahu. Sudah larut. Malas melanjutkan percakapan. Aku juga malas memikirkan kelanjutan obrolan kami. Paling hanya percakapan iseng untuk yang ke sekian kalinya. Tapi apa daya, tanpa kusadari, malam itu perasaan Ayu ke Bayu sempurna tercungkil sudah.

* * *
KEJADIAN KEDUA

Malam Berikutnya Ayu semangat banget berkunjung ke Bubu Kafe. Menyeretku. Aku hanya tertawa kecil. Dea, teman kami satu kosan lainnya ikut lagi, mau balikin buku.
Sepanjang perjalanan Ayu berkali-kali bilang, semoga Bayu ada di sana. Sebentar, bertanya tentang Bayu. Berkomentar lagi tentang Bayu. Bayu! Bayu! Bayu terus! "Eh, gue yakin banget bakal  ketemu dia, kok! Kalian kok sirik banget, sih!" Ayu menjawab sebal saat aku dan Dea menggodanya tentang penderita psikis obsesif yang sok-tahu.
Dan benar saja, Bayu ada di sana. Lagi-lagi tersenyum lebar dan melambaikan tangan. Aku pikir, saat itu Ayu agak berlebihan membalas senyum dan lambaian itu. Tapi sudahlah!
Malam itu, jadwal bacaku dua jam di Bubu Kafe mendadak berubah amat menyebalkan. Aku, Dea, dan Ayu duduk satu meja. Ayu berkali-kali menyikut lenganku setiap kali Bayu menatap meja kami. Aku terpaksa mengangkat kepala, melihat Bayu yang mengangguk ke meja kami. Aku ikut tersenyum, basa-basi membalas anggukan.
Dan itu benar jadi "bahan pembenaran" ilusi Ayu kalau Bayu memang sengaja atas berbagai lirikan tersebut saat kami kembali ke kosan.
"Apa yang gue bilang, semalam! Dia memang sengaja melihat ke meja kita, kan. Dia memang sengaja melirik gue!" Ayu berkata antusias. Pipinya merona. Membayangkan kemungkinan terindah yang ada di benaknya. "Biasa saja lagi, Yu. Lu aja yang keseringan ngelirik dia, jadi dia refleks mengangkat kepalaya. Siapa pun yang sedang diperhatikan pasti refleks menoleh ke orang yang sedang menatapnya, kan? Itu logis! Bayu hanya merasa lu terlalu sering memperhatikannya. Jadi dia juga sering melirik lu. Mahasiswa psikologi tahun pertama saja tahu analisis aksi-reaksi sederhana seperti itu, Non"! Aku mengangkat bahu, pura-pura tidak memedulikan.
"Lu kenapa, sih, nggak suka lihat teman senang?" Ayu melemparku lagi dengan bantal. Sebal.
Aku tertawa.
"Lagi pula, lu lihat sendiri apa yang gue bilang, soal Bayu pasti ada di Bubu. Benar, kan, dia ada di sana! Dia pasti sengaja menyempatkan datang buat bertemu lagi, kan. Sama seperti gu--. Eh, maksudnya sama seperti kita"!
Aku tertawa. Maksud Ayu sebenarnya sama seperti dirinya yang maksa-maksa datang lagi ke Bubu. Lazimnya kalau kalian memang ditakdirkan berjodoh, terus ada feeling satu sama lain saat pertama kali bertemu, esok-lusa kalian biasanya akan memaksakan diri untuk kembali ke tempat pertemuan pertama. Itu lumrah. Seperti ada sesuatu yang mengendalikan perasaan kalian. Tapi kasus Ayu beda banget.
Aku malas menjelaskan kalau sebenarnya Bayu memang setiap malam berkunjung ke Bubu. Bahkan jauh-jauh hari sebelum aku terbiasa datang ke sana-juga-setiap malam. Tapi malam itu aku tak bisa berhenti berpikir. Jangan-jangan Ayu benar. Tidak biasanya Bayu melirik ke meja tempatku duduk selama ini, kan? Jangan-jangan dia naksir --.
Yang jelas pasti bukan naksir Ayu! Aku mengusir jauh-jauh kemungkinan itu.

* * *
KEJADIAN KETIGA

Kali ini benar-benar membuatku jengkel sekaligus bingung. Hari ketiga. Itu persis hari ulang tahun Ayu. Malam itu kami memutuskan tidak ke Bubu, meski Ayu sengotot apa pun hendak pergi ke sana. Tapi, malam itu Ayu memang tidak merencanakan pergi ke sana.
Kami merayakan ulang tahun Ayu di salah satu warung tenda yang banyak memadati sepanjang jalan. Soto Konro. Aku, Dea, dan beberapa teman sekosan ramai memenuhi meja panjang. Ayu yang traktir. Sepanjang makan kami bukannya bilang terima-kasih, tapi justru sibuk menggoda Ayu dengan gumpal perasaannya itu. Ayu mengkal banget saat aku lagi-lagi bilang tentang itu hanya perasaannya doang, dan semua teman yang lain mengamini. Ayu mendesis kalau ia dan Bayu memang benar-benar ada feeling satu sama lainsaat bertemu di Bubu. Aku tertawa lebar. Teman-teman yang lain ikut tertawa. Tetapi, astaga! Belum habis tawaku, belum lenyap suara riuh-rendah itu, entah bagaimana penjelasannya, Bayu mendadak muncul di warung tenda itu. Dengan jaket tebal.. KEREN!
"Hei, halo semua! Eh, kalian ada di sini? Lagi kumpul semuanya? kebetulan banget." Bayu tersenyum amat gagah-nya. Membuat keributan tadi terhenti sejenak.
Dan kalian bisa membayangkan apa yang terjadi malam itu di kamar kosanku. Aku kehabisan peluru untuk memutar-balikan semua kalimat Ayu.
"Itu kebetulan, Yu! Kan, Bayu juga bilang kebetulan!" Aku mulai putus asa.
"Sengaja, Cha! Nggak mungkin dia kebetulan doang datang ke warung tenda tadi. Semua orang di planet ini juga tahu kalau gue ulang tahun malam ini." Ayu memotong, tersinggung.
"Oke, sengaja, tapi belum tentu juga pengin nemuin lu, kan? Bisa jadi sengaja pengin ketemu dengan orang lain ---"
"Siapa?" Ayu memotong galak.
Aku terdiam menggigit bibir.
Ayu menatapku tajam. Menyelidik.
"Ah, gue ngerti kenapa lu selama ini selalu membantah seluruh kalimat gue. Lu juga naksir Bayu, kan? Ayo ngaku!" Ayu mendadak tertawa.
Aku buru-buru menggeleng. Meski muka bersemu merah.
"Ayo ngaku, Cha! Lu juga naksir dia, kan? Aduh, Chacha sayang ..... kasian ..... ternyata Bayu naksir gue! Jangan patah hati, ya!" Ayu tertawa amat lebarnya. Senang dengan fakta baru tersebut. Malam itu aku yang menimpuk Ayu dengan bantal guling. Menyebalkan!

* * *
KEJADIAN KEEMPAT

Sejak malam ulang tahun Ayu, tidak ada lagi diskusi menarik antara aku dan Ayu soal Bayu. Aku bukan hanya semakin jengkel dengan laporan Ayu atas hal-hal sepele yang seolah-olah pertanda cinta terbesar miliknya. Aku juga semakin jengkel karena Ayu balas membalik kalimatku, "Lu nggak terima ya kalau Bayu ternyata beneran naksir gue?"
Dan kalimat itu sungguh membuatku salah tingkah. Baiklah, kuakui saja kalau aku memang naksir Bayu. Tapi setidaknya aku masih berpikir logis. Mana yang sebenarnya pertanda cinta, mana yang hanya sekadar kebetulan, dialog biasa, atau sejenisnyalah! Aku juga berharap selama ini Bayu akan memberikan pertanda isi hatinya, tapi bukan berarti aku yang ngarang-ngarang pertanda itu. Membiarkan hati membuat ilusi. Membiarkan hati menyimpulkan hal keliru --- yang aku tahu benar itu semua semu. Ayu hanya tertawa cekikikan saat aku mati-matian membela diri dan menjelaskan teori itu.
Aku mengumpat sebal. Berseru jengkel, semoga Ayu tidak sakit hati saat tahu kalau sebenarnya segala lirikan Bayu, senyuman Bayu, dan juga pertemuan tidak sengaja di ulang tahunnya itu sebenarnya untukku. Bukan untuknya. Ayu malah bertingkah semakin menyebalkan.
Maka datanglah kejadian keempat itu. Yang benar-benar membuat Ayu menyadari kalau ia selama ini keliru. Tadi pagi aku dan Ayu bertemu Bayu di kampus. Seperti biasa, aku pikir Ayu berlebihan bersikap. Kami membicarakan urusan biasa-biasa saja. Kuliah, dosen, dan sebagainya. Yang aku yakinn nanti bisa-bisanya Ayu menterjemahkannya jadi luar biasa.
Tapi kali ini Ayu tidak berkesempatan lagi. Entah mengapa pembicaraan mendadak menyinggung konser musik esok-malam di JHCC. "Aku punya dua tiket, lu mau ikut?--" Bayu menunjukkan dua tiket miliknya.
Ayu semangat banget mengangguk, tanpa sempat memperhatikan siapa yang dimaksud "lu" oleh Bayu.
Bayu pun tak sempat memperhatikan anggukan Ayu karena matanya tengah menatapku, menanti anggukan dari sana. Ya ampun, yang diajak ternyata aku! Senyap menggantung. Aku tidak tahu harus bilang apa saat Bayu mengajakku. Apakah aku bahagia? Apakah aku sedih? Lihatlah, Ayu hanya terdiam sepanjang sisa pertemuan di kampus. Malamnya juga mengurung diri di kamar. Patah hati.
Aku memutuskan untuk tidak pura-pura sok baik bersimpati padanya malam ini. Lihatlah, saat ilusi itu terkena cahaya kebenaran, yang tersisa hanyalah kesedihan. Sendu. Besok-besok, kalau sempat, aku akan membujuknya untuk melupakan seluruh perasaan itu.
Bayu mengajakku nonton! Nah, kalau itu jelas sudah pertanda cinta yang luar biasa. Itu benar-benar menjelaskan kenapa ia selalu tersenyum dan melambai setiap melihatku di Bubu. Selalu sembunyi-sembunyi menatap meja bacaku. Juga datang sengaja ke ulang tahun Ayu. Itu menjelaskan semuanya....
Aku bersenandung riang memikirkannya.

* * *

Esok malamnya. Aku menyiapkan gaun terbaikku. Berdandan semenarik mungkin. Lantas riang menuju jalanan depan kosan. Menunggu Bayu menjemput di depan Bubu. Sepertinya Ayu menatapku dengan mata terluka dari balik jendela. Tapi, entahlah! Aku tidak sempat memperhatikannya.
Bayu seperti biasa tersenyum lebar menemuiku. Gagah sekali. Aku benar-benar bangga bersanding bersamanya. Inilah yang disebut dengan sebenar-benarnya pertanda cinta. Bukan bualan hati yang direka-reka. Bayu melambai memanggil taksi biru. Kami melaju menuju JHCC. Bukan main. Ini akan jadi kencan yang hebat.
"Cha, aku boleh tanya sesuatu, nggak?" Bayu memutus anganku yang tengah melambung. Dia menatapku sambil tersenyum lebar.
Aku mengangguk cepat. Tersipu malu. Sesuatu?
"Tapi kamu jangan ketawa, ya?" Bayu bersemu merah.
Ya Tuhan, bagaimana mungkin aku menertawakannya. Aku semakin buncah oleh perasaan menunggu. Akhirnya.
Hening sejenak. Bayu mematut-matut apa yang akan dikatakannya. Aku tertawa melihat muka tegangnya.
"Tuh, kan! Kamu sudah ketawa duluan!"
"Sorry...Nggak, deh! Aku nggak akan tertawa!"
Bayu mengusap wajahnya yang berkeringat.
Aku menunggu dengan hati berdebar-debar.
"Eh....Ergh.....Dea tuh sudah punya pacar, belum?"
Glek! Seketika aku mematung.
"Eh.... Dd..Dea?"
"Ya, Dea. Satu kos sama lu dan Ayu, kan?"
Seketika luntur seluruh kebahagiaan itu. Kepalaku mendadak pusing. Berkunang-kunang. Aku sungguh tidak bisa mendengarkan lagi dengan jelas kalimat Bayu berikutnya.
"Cha, aku sudah lama banget naksir Dea. Beberapa hari lalu, waktu lihat lu, Ayu dan Dea di Bubu Kafe, aku nggak bisa menahan diri untuk berhenti meliriknya. Menatap wajah cantiknya. Aku dari dulu sudah mau nanya-nanya ke lu, tapi selalu cemas lu bakal ngetawain. Sayang, pas gue bilang nggak tahu kosan Ayu di mana, lu nggak mau jawab, malah kabur."
Kepalaku semakin pusing. Ternyata, ini maksud dari semua kejadian itu.
"Waktu Ayu ulang tahun aku juga sengaja datang, Cha. Biar ketemu Dea. Ampun, kenapa gue jadi mulu-maluin gini, ya? Harusnya gue bisa ngajak Dea ngobrol langsung malam itu, kan?! Tapi sudahlah! Malam ini gue ngajak lu nonton konser sebenarnya pengin nanya-nanya soal Dea. Lu nggak keberatan kan, Cha?"
Sekarang, aku benar-benar tidak lagi bisa mendengarkan kalimat Bayu. Aku sudah terkapar di atas kursi taksi. Ilusi itu! Ya Tuhan, aku sempurna tertikam oleh ilusiku sendiri. Pengkhianat oleh hatiku yang sibuk menguntai simpul pertanda cinta.
Ayu! Hiks! Ternyata kita senasib.....

***

No comments:

Post a Comment

Silahkan Berkomentar Secara Bijak dan Sesuai Dengan Topik Pembahasan

HILANG

DIAN, hari ini ujian skripsi. Bangun pagi-pagi. Semangat. Yakin dengan semua persiapan. Tiba dikampus 45 menit sebelum pintu ruang ujian dib...